Makin lama kutunda cerita ini makin banyak yang protes, kayaknya aku musti cepat-cepat selesaikan malam ini juga.
Hal-hal yang kuceritakan di sini terjadi bukan atas kemauanku.

Untung saja anak-anak sudah tidur selama peristiwa itu berlangsung. Kalau tidak, aku tidak akan banyak punya kesempatan untuk menggali lebih jauh mengenai orang yang didatangkan iparku itu.

Aku mendengar pintu kamar di dalam terbuka, sepertinya wiridnya sudah selesai. Aku lihat dia mondar-mandir di teras belakang, menaburkan garam kasar yang ditaruh dalam sebuah kantung plastik ke sudut2 rumah, lalu ke atas rumah.

Terdengar bunyi garam jatuh berjurai di genting dan plafon bilik. Kuat sekali lemparannya, bisa mencapai atap rumah, padahal badannya kecil dan pendek. Sepertinya menggunakan tenaga dalam.
Ia muncul ke teras, melewati kami terus ke jalan depan rumah dan kembali mengawurkan garam ke atas rumah bagian depan.

Ke sudut-sudut halaman juga.

Setelah selesai, ia ke teras ikut bergabung dengan kami, sambil setengah terkekeh senang. Mungkin merasa gembira telah menyelesaikan misinya.
“Geus kabur deui teu make gelut!” cetusnya tiba-tiba. Artinya, (jinnya) sudah kabur tanpa perlawanan.

Aku dan ayah berpandangan. Lalu memandang orang itu lagi.
Aku terus menyebut dia sebagai ‘orang itu’ karena hingga saat itu aku belum bisa mengetahui namanya. Dari obrolan sebelumnya dengan Oki dan om Kopral, mereka terus menyebutnya dengan panggilan ‘si Okem’.

Flashback obrolan kami mengenai identitas orang itu sebelumnya:
“Nama bapak itu siapa sih Ki?” aku bertanya pada Oki yang dari tadi lebih banyak diam dan mengamati. Dengan polos Oki menggelengkan kepalanya.
“Aa..aapa ya gak tau, kita manggilinnya Okem Okem aja. Yang lain juga manggilnya gitu.” Diamini Om Kopral.
“Iya teh, sayah juga panggilannya Kopral Kopral terus. Gak ada yang tahu nama saya Iwan,” katanya sambil nyengir, asap rokok terus mengepul dari mulutnya.

Ah Oki, selama aku menjadi iparnya, belum pernah ni anak menjadi seculun ini. Tapi aku harus mengakui, pergaulannya luas di segala kalangan. Buktinya dia bisa kenal dengan para preman ini. Pekerjaannya di Pemkot Depok yang termasuk menguntit kriminal penimbun BBM memang memerlukan pergaulan dengan kalangan seperti ini.

Aku jadi menduga yang kenal orang itu sebenarnya adalah Om Kopral, dan Oki, menghormati tawaran Kopral, bermaksud membantu kami saja.

Balik lagi ke depan.

Pak Okem, eh orang itu, lalu tiba2 saja dia bilang, dalam bahasa Sunda kasar, bahwa ia menyayangkan ‘ibu itu’ menolak diberikan ayat2 Sulaiman. Ia menunjuk-nunjuk ke dalam, sepertinya yang dimaksud adalah kak Ita. Padahal bagus ayat2 itu kalau dia kuasai, katanya. Sayang sekali, cetusnya berkali-kali.
Belakangan aku diceritai kak Ita kalau dia sebenarnya sedang berusaha menghilangkan 2 jin yang masih menempel padanya.
Satu berwujud harimau putih yang didapat dari suatu lembah di tengah hutan wilayah Sukabumi, di waktu jaman jahiliyah kak Ita di masa muda, yang menyebabkan dirinya sering terlihat gagah, putih dan cantik namun disegani. Satu lagi nenek tua, yang membuat dia kadang terlihat orang seperti nenek-nenek tua sekali di malam hari. Yang terakhir ini jin turunan dari keluarganya.
Mungkin maksud pak Okem, supaya kak Ita bisa mengendalikan kedua jin yang menempel itu, dia perlu menguasai ilmu yang didapat dari membaca ayat Sulaiman. Secara nabi Sulaiman mampu menaklukan dan memerintah Jin dan bahasa seluruh makhluk binatang di muka bumi ini.
Kak Ita akhirnya cerita bahwa dia menolak saran pak Okem karena ayat Sulaiman tidak cocok untuk wanita, karena terlalu berat. Kecuali bila sudah berusia di atas 50 tahun.

“Ahem.. Pa, gimana tadi ceritanya di dalam?” aku tak dapat menahan rasa penasaran.
Pak Okem tertawa kegelian, dia seperti senang sekali dengan yang dilakukannya, seolah mengusir jin adalah suatu permainan. Semua yang diucapkannya dalam basa Sunda.

“Wah, langsung kabur bu! Wong yang saya bawa jin PM-nya…” DANG DANG DANG! Apakah ini artinya dia mengusir jin dengan jin lagi?

“Ke arah mana?” tanya si ayah
“Ka ditu tuh,” ia menunjuk ke arah taman di ujung jalan buntu di komplek. Pandangan mata kami terpaku pada rumah sebelah kami persis yang gelap gulita.
“Wah, mudah2an gak berdiam di rumah tetangga sebelah yang sering dikosongin.”
“InsyaAllah tidak. Kalau memang mengganggu bilang saja, nanti diurus lagi.” Trus dia meminum kopi di cangkir yang tadi kusediakan untuk entah siapa.

Melihat pandanganku yang kaget dia kembali kegelian. “Kopi ini mah udah tinggal bagian saya,” katanya sambil tertawa-tawa.
Aku dan ayah hanya tersenyum was-was.

“Mmm… Kalo boleh tahu, bapak namanya siapa?” tanyaku memberanikan diri. Aku masih belum merasa menghormati tamuku bila belum tahu pasti namanya.

“Jenengan nu asli, maksud istri saya,” lanjut si ayah.

Hwahahahaha… Dia tergelak.
“Saya mah sudah biasa dipanggilnya Okem ajah!” Katanya sambil kembali menyeruput kopi. Ia berpikir sebentar, lalu ia memandang kami dan berkata. “Nama saya sebenarnya Ahmad Nur Alam. Bisa langsung seperti ini setelah kelahiran anak bungsu saya, ketika saya berhenti mabuk2an.”

“Itu 17 tahun yang lalu ya wa? Si Fani sekarang udah 17 tahun umurnya,” timpal om Kopral.

“Saya dulu memang preman. Orang lain bangun tidur minum kopi, kalau saya langsung nenggak!” Tangannya memperagakan gerakan mencekik botol. “Benar!” katanya melihat pandangan kami yang kaget.
“Biar begitu,” dia melanjutkan,”Saya dulu juga tukang lalakon (bertualang). Pergi ziarah ke makam ini makam itu, makam para wali! Gak tau tuh, tiba-tiba saja saya bisa begini. Setelah insyaf.”
“Masalah pakaian, ya masih seperti ini belum berubah. Kadang saya malah pakai baju robek-robek hehehe.” Dia terkekeh. “Ini sudah termasuk rapi. Ya kan Kopral?”
Om Kopral mengangguk-angguk.
“Saya ga suka kelihatan seperti kyai macam-macam ah, malu. Buat apa. Yang penting niat saya ikhlas bantu orang.”

Dia menyodorkan selembar kertas bertuliskan huruf arab. “Karena sifat manusia selalu ada iri, hasud, dengki, siapa yang tahu ada yang begitu sama kita, ini nanti dibaca, untuk penangkal teluh atau gangguan jin. InsyaAllah. Baca dengan keyakinan bahwa semuanya bisa terjadi karena izin Allah. Kalau tidak yakin, tidak mujarab!
Atau diselipkan saja dilangit-langit rumah.”

Aku berusaha mengenali ayat apa yang tertulis di situ, tapi aneh, sepertinya bukan bahasa Al-Qur’an.
Ternyata benar.
Ketika dia membacakan, ternyata bahasa Sunda kuno.ย ย 
Kucoba membaca :ย 

“Bismillaahirrohmaanirrohiim. Tazimayla/Batara guru.
Bijalu surya batara syarat ….(ga kebaca)…..pakan lemah syepanhu para….(ga kebaca) …matsaki atsin para..fadik pamukah, wajar pamukah, taktsak wuluq jighopangan rupane belegedeg dst dst……per kereles per kereles per kereles ….dst dst….pada lemah.”

mantra

Aku menyerah, ga bisa baca tulisan hurup arab sunda ini pada sebagiannya. Tulisannya kurang jelas dan atau aku memang kurang berminat menelitinya.

Menjelang bubaran, tamu kami bercerita banyak mengenai pengalamannya menghadapi orang-orang yang di wilayah sunda dikenal sebagai ‘tukang sare’at’, atau orang yang biasa didatangi orang untuk dibantu pesugihan. Mereka biasanya memelihara jin untuk maksud2 tertentu. Lalu kebencian dia pada orang2 yang menjual doa pada keluarga yang sedang ditimpa musibah atau yang memerlukannya. Misalnya memimpin tahlilan tapi sebelumnya tawar menawar harga dulu.
Orang-orang seperti itu hidup dengan menjual agamanya, dan itu seburuk-buruk mata pencaharian. Percayalah. Orang-orang seperti itu memang ada.

Pak Ahmad bilang, menghadapi hidup seperti ini bukan pilihannya. Dia hanya menjalani saja, walau kadang nyawa taruhannya. “Saya hanya berusaha dekat dengan Allah, karena ‘deking’ saya hanya Allah.”

Bukan aku saja yang mendengar ia bicara seperti itu. Di situ ada ayah, Oki dan Om Kopral.

Sebelum mereka pulang, dia meminta kertas bertuliskan namaku dan ayah. Aku menuliskannya di atas amplop berisi sedekah yang kuserahkan padanya. Dia menerimanya tanpa berkata apa-apa.
Melihat nama kami, ia menghitung-hitung dengan jari sambil bergumam. “Empat….delapan… Hmmmm… Bagus… Bagus… Bapak bagus.. Ibu juga bagus.” katanya.

“Bagus apanya pak?” tanyaku penasaran.
“Bagus dunianya!” tukasnya sambil membelalak.
“Kalau akhiratnya?” tanyaku iseng.
“Nah, itu sih tergantung amalannya di dunia!” jawabnya lugas.
Kami semua tertawa dengan pertanyaan bodohku.

Tamu kami pulang pukul setengah duabelas malam.

Meninggalkan kami termangu.

(to be continued)

Iklan

7 pemikiran pada “Maunya Rukyah Syar’iyyah… Tapi… (3)

  1. Sori TD, I can’t help not to laugh waktu baca bagian tulisan arab yang isinya bahasa sunda kuno…:D ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ :D. Trus gimana nih sekarang? manjur ga?

  2. KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI: http://www.leoxa.com/
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

    ========
    ========
    rame yang udah berpindah daripada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren

  3. @Anis & Nining: kalo dibikin film, durasinya paling cuman 15 menit.
    @Nengcha : wuehehehe…. sama kayak TD dan A Yudi juga kadang geli, tapi juga curious.

    @chuanwei : tawaran ini untuk blog yang isinya worth reading kan? mmm aku pikir2 dulu apa aku pantes ๐Ÿ˜›

  4. emang kayaknya cerita ini paling seru, karena ketauan culunnya .. he he he …
    Sepertinya aku juga sering merasa seperti orang culun saat ingin memecah kebisuan dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s