Ok kita teruskan lagi cerita sebelumnya ya… sampai mana tadi?  Oh ya, sampai aku membuatkan kopi pahit dan kopi manis.

Sambil mengaduk kopi, aku bilang ke kak Ita, saudara muslimah yang sedang berjuang untuk kaffah dalam berislam, bahwa aku sudah berbicara dengan tante dan mengatakan bahwa kata tante ini hal biasa. 

Kak Ita menyatakan keraguannya, tapi aku bilang lihat sajalah nanti.  Bagaimana caranya aku menolak pada saat itu tanpa menyinggung perasaan tamu yang datang?   Lagi pula aku penasaran saja ingin tahu metoda mereka, aku menenangkan kak Ita.

Setelah selesai kubuatkan, lebih karena penasaran, aku ikut keluar ke teras dan bilang bahwa semua sudah siap. 

Om Kopral sedang mencari rokok merk ‘Minak Djinggo’.

Pertama kali aku melihat penampilan orang yang katanya akan merukyah rumah kami itu, keraguanku makin besar. Penampilannya agak kotor, dengan kalung dari logam melilit di leher, juga gelang logam, dan matanya merah.  Untung saja badannya tidak berbau. 

Tapi bagai terhipnotis, aku diam saja ketika dia minta izin untuk berwudhu dan menanyakan boleh sholat di bagian mana di rumah kami.  Ayah menunjukkan kamar tidur kami, di mana Salman pernah ketakutan memasukinya, dan memang ruangan itu paling gelap walaupun di siang hari.

Orang itu, lalu masuk dan berwudhu di kamar mandi yang ada di sebelah kamar dimaksud.  Lalu dia menggelar sajadah dan sholat.  Selesai sholat kami mendengar ia mewiridkan sesuatu, doa dalam bahasa Arab.  Aku dan kak Ita berdiam di tengah rumah sambil mengobrol, tapi sambil memperhatikan yang dia lakukan di dalam kamar.

Selesai wirid  dia keluar mengambil cangkir kopi yang sudah disediakan, di tangannya sudah tersundut rokok Minak Jinggo.  Tangannya menyambar-nyambar ke atas seolah ingin merasakan sesuatu.  Lalu dia masuk lagi ke kamar.

Aku tidak pernah mengizinkan orang merokok di rumahku sebelumnya!  Apalagi ini di dalam kamar tidur kami yang berdinding bilik.  Don’t try this at home guys, please!

Karena agak lama, dan belum sempat mengobrol dengan iparku, aku akhirnya keluar meninggalkan kak Ita di dalam.
Oki dan Om Kopral sedang duduk-duduk di teras dan mengobrol dengan ayah, tapi sepertinya mereka lebih banyak berdiam diri.

“Kenalan Om Kopral?”  aku membuka percakapan. 
“Iya.”  Diam lagi.
“Dia udah biasa bikin ginian di mana-mana.  Sebelumnya dia mantan preman, setelah sadar, langsung bisa begini.  Soal penampilan, dia memang nggak suka pake sorban atau peci.  Apalagi baju gamis-gamis, ah itu sih cuman buat penampilan aja,”  lanjut Om Kopral seolah membaca keraguanku.

Dalam hati aku membenarkan.  Memang sih, kalau penampilannya berlebihan aku juga bakal ragu-ragu.

“Tadi di dalam rokoknya bau nggak?” tanya Oki.
“Iya, tapi kok baunya wangi ya, menyan kalik ya?” aku tanya terus terang.
“Bukan, itu Minak Djinggo.  Baunya menyengat.”
“Wangi tapi.”
“Ya.. gitu deh.”

Diam lagi.  Kami semua tegang.

(to be continued)

Iklan

8 pemikiran pada “Maunya Rukyah Syar’iyyah… Tapi… (2)

  1. D, kalau urusan seperti ini .. ngobrol dg jin, temennya sepupuku bisa dialog dg jin, bisa ngusir jin, gak pake menyan, rokok, kopi.
    Aku pernah ngenalin beliau dg teman dikantor yang sering diganggu fisik (bukan rumah) sampe ke anaknya segala.
    Dan aku hadir disitu … merinding juga
    Dia cuma ngobrol dg jin itu, trus ngusir, katanya kalau gak mau pergi jg jin itu akan “dibunuh”
    Insya Allah gak pake syarat2 an, trus temenku itu bilang dia dah gak diganggu lagi, dan berhubung temen ab ku itu bukan orang “kaya” jadi ya dikasih deh tanda terimakasih.

  2. D, tanpa bermaksud nggurui, ada baiknya diupayakan ruqyah secara mandiri. beberapa hadits menyatakan, bahwa ayat-ayat dalam al ma’tsurat memiliki potensi pengusir jin dan syetan. masalahnya, adakah kita cukup yakin dan ikhlas untuk menjalaninya? afwan

  3. @moumtaza: afwan, akhi mudah2an tidak salah paham, ana kan belum sampai pada akhir cerita 😀

    @nengcha: itu lah yg TD maksud, bagaimana caranya supaya hubungan persaudaraan kita tetap baik, dan berdakwah secara halus pada keluarga kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s