Meneruskan cerita minggu lalu

Berawal dari beberapa hal aneh yang terjadi di rumah, akhirnya kami mencari bantuan dari kerabat yang pernah mengalami kejadian yang mirip dan telah dirukyah secara syar’i oleh seorang ustadz.

Kebetulan tante setuju untuk membantu menghubungi ustadz Nurmawan yang pernah merukyah rumahnya.  Aku menetapkan harinya, Minggu siang, sekaligus selamatan rumah bersama keluarga besar.

Jum’at pagi sebelum hari-H aku mendapat sms dari tante.  “Sudah dihubungi oleh Oki?  Katanya temannya bisa juga”  Langsung aku telpon tante menanyakan apakah ustadz Nurmawan berhalangan.  Tante menjawab, lebih baik dilakukan malam-malam, dan Oki (iparku) menawarkan seorang kenalannya yang bisa mengusir jin.  Dia sudah telpon belum? tanyanya.

Aku lantas telepon adikku, Oki adalah suaminya.  Aku memastikan bahwa kenalan Oki adalah seorang ustadz (yang asumsiku menggunakan Al-QUr’an sebagai alat rukyah).  Adikku hanya mengatakan, oh, dia sudah biasa melakukannya (mengusir jin) di mana-mana…  Malam ini juga suaminya dan kenalannya itu akan mendatangi rumah kami, katanya.

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.  Pertama, kami belum berpengalaman dengan hal-hal seperti ini.  Kedua, aku belum bisa menilai apakah orang yang diundang iparku itu akan melakukan rukyah secara syar’i, jadi aku biarkan karena aku tidak ingin menyinggung perasaan iparku.

Akhirnya, malam itu sepulang kerja, aku berbincang dengan suami membicarakan perkembangan tak terduga ini.  Dalam hati kami berdua agak ragu-ragu dengan orang yang dimintai bantuan oleh iparku itu, namun kami belum bisa mengambil keputusan apa-apa sebelum menemuinya sendiri.

Teh Pipih pengasuh anak-anak telah pamitan dari pukul 19.00, memulai waktu libur setiap akhir minggunya, tapi kami berpesan supaya dia dan suaminya ikut membantu untuk acara selamatan hari Minggunya, karena kami memutuskan untuk memasak sendiri sajian untuk tamu.  Teteh dan suaminya setuju.  Biasanya teteh baru datang lagi Senin subuh.
Selain kami berempat, di rumah ada juga kakak angkatku ikut menemani, namanya kak Ita.

Sambil menjaga anak-anak yang telah mengantuk dan akhirnya tertidur, mereka akhirnya datang pukul 21.00.   Datang bertiga:  Oki, kenalannya yang kami kenal sebagai ‘Om Kopral’ , dan kenalan dari Om Kopral. 
Aku dan kak Ita diam di dalam.  Ayah menemui mereka sebentar lalu masuk ke dalam.

Bu, katanya minta kopi pahit dan kopi manis.

Apa???”  Aku langsung mengernyit. 
Waktu dulu ikut acara binroh di kantor yang bertopik rukyah syar’iyyah massal, rasanya tidak ada woro-woro harus menyediakan macam-macam selain ayat-ayat al-Qur’an yang harus dibaca.  Alarm di kepalaku berbunyi nyaring.

Ayah mengedikkan bahunya.  “Katanya seperti itu.”

Orangnya seperti apa?  Dia ustadz bukan?”

“Orangnya biasa saja, malah pakai kalung dan gelang.”

DANG DANG DANG!

Ayah langsung balik lagi ke teras menemui tamu.

Aku buru-buru meraih telepon.  Kubel tante.
“Ate, orangnya minta kopi pait dan kopi manis, memangnya prosesnya harus seperti itu?”
 
“Iya, kasih aja, asal jangan minta mencit embe (menyembelih kambing) segala macem yang aneh-aneh,” jawab tante.

“Masak sih.. Te?  Rasanya nggak pake gituan deh….”
“Udah bikinin aja, itu sih biasa neng..”

Karena aku percaya tanteku, aku jadi ragu-ragu untuk menolak membuatkan… 

Akhirnya kubuatkan juga 2 cangkir kopi.  Satu pahit, satu kukasih gula.

Ya Allah, kami adalah orang yang bodoh, bila ini salah, tolong beri kami petunjuk…
(to be continued)

Iklan

4 pemikiran pada “Maunya Rukyah Syar’iyyah…. Tapi… (1)

  1. @masgi: trims mas. Aku sebenarnya sudah mengetahui juga mengenai rukyah secara syar’i. Ini benar-benar perkembangan tak terduga.

    @anis : secara udah pernah ikut bintal geto loh… ? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s