Apa yang kebayang kalo kusebutkan kata…… DUREN?

Hangat, sedap, harum, manis, jilat, … kolesterol.  Ouch!

Kalo kusebutkan kata………………………………… POLITIK?

Lobby lobby, menjilat, ormas, koalisi, oposisi, rekayasa, skenario, demo, pengkhianatan, uang panas, …….

Nggak ada yang bagus-bagus :( 

Aku memang benci banget sama politik.  Stigma yang kulekatkan pada istilah itu selalu yang kotor-kotor dan jelek-jelek.   

Heran banget….  kenapa akhir-akhir ini aku jadi tertarik ama politik.   

Akhir-akhir ini aku baru sadar, mungkin juga baru setengah paham, bahwa politik itu sesuatu yang tidak pernah terlepas dari kehidupan kita.

Disadari atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari kita telah berpolitik .  Sebagai makhluk sosial, kita telah selalu berpolitik di rumah, di tempat kerja, di pasar.  Masih belum sadar juga?

Definisi politik menurut Wiki adalah:

“process by which groups of people make decisions. The term is generally applied to behavior within civil governments, but politics has been observed in all human group interactions, including corporate, academic, and religious institutions.

 

Politics consists of “social relations involving authority or power” and refers to the regulation of a political unit,  and to the methods and tactics used to formulate and apply policy.”

Proses pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan bersama itu juga terjadi dalam organisasi yang paling kecil, yaitu keluarga.

Hmmm… jadi politik itu sebenarnya adalah proses pengambilan keputusan toh?  Untuk kebaikan bersama kan?  Jadi harusnya tidak kotor kan?  Malah penting, kan? 

Kemunculan politisi-politisi yang relatif ‘lurus’ yang menjadi trend belakangan ini kayaknya yang berperan besar menumbuhkan ketertarikanku pada istilah ini. 

Barrack Obama memulai proses menuju kursi presidennya melalui usaha-usaha perbaikan kualitas hidup di lingkungannya, yang terus menerus dan berkelanjutan, yang dengan sendirinya mendapat kepercayaan masyarakat. 

Adang Dorodjatun santun menghadapi kekalahannya, walaupun dizalimi dengan berbagai cara oleh oposan yang diusung koalisi 20 parpol melawan PKS sendirian, padahal suara yang dikumpulkannya mencapai 45% suara termasuk dari pihak gereja. 

Ahmad Heryawan memulai sosialisasi dan mulai menggali visi misinya sebagai gubernur dengan cara turun langsung ke tengah-tengah rakyat menyentuh masalah mereka, seperti yang telah dicontohkan sahabat Umar bin Khatab a.s.   Satu-satunya calon gubernur yang langsung mendukung pembangunan jalur busway keluar wilayah DKI Jakarta menyambung koridor yang telah dibangun, untuk kenyamanan dan efisiensi.  Kalau dalam misinya mengutamakan pendidikan, peningkatan kualitas hidup wanita dan anak-anak, karena beliau sudah tahu akar masalahnya.  Tidak duduk di awan-awan, memandang ke bawah seolah seorang keturunan menak Pajajaran.

Mereka calon-calon yang pantas menang.

Bila aku tidak ikut memberikan suara bagi calon-calon yang pantas dijadikan pemimpin di daerahku, apa gunanya aku.

Tapi bila kandidat pemimpin  yang ada semuanya meragukan, maka aku memilih untuk tidak memilih. 

Itu namanya berpolitik, dalam porsi sebagai rakyat.

Sama, ketika aku mulai meningkatkan pengaruh di lingkungan warga untuk mulai membuat biopori, atau mengusulkan cuti bersalin dari perusahaan menjadi 9 bulan, apakah itu namanya bukan berpolitik?

Jadi bagaimana aku bisa benci dengan politik, kini? :D  

6 pemikiran pada “Politics

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s