Awalnya, kukira aman tanpa gegar lingkungan.  Aku terlalu optimis.

Ternyata kami hanya kecapekan.  Jadi rasa-rasa lain terkebelakangkan.  

Kini, setelah semua barang masuk ke rumah, baru terlihat ada yang nggak pas di sana-sini.  Penempatan lay out barang-barang fungsional seperti PC dan mesin cuci, mengalami kesulitan supply listrik alias gak ada stop kontak yang cukup dekat.   Sofa kuning hasil pesanan dan didesain khusus sewaktu baru menikah dulu, kini jadi terlihat kikuk berat di teras belakang.  Tiap kali aku melihatnya, aku bertanya ‘What is this elephant doing here?’, sebal sekali melihatnya menutupi lantai mozaik yang kubanggakan.  Tiba-tiba aku melihat bukan cuman itu furnitureku yang harus diganti hehe….  Gegar Pertama.

Malam pertama dan kedua, aman, tak ada anak yang teriak minta ditemani tidur malam-malam.  Nafas lega kami berganti menjadi delikan sebal pada jam-jam dini hari di malam-malam berikutnya.  Rupa-rupanya setiap kali ada geluduk dan cahaya terang kilat yang terlihat dari balik genting kaca membuat Yasmin takut dan tak bisa tidur.  Salman pun akhirnya memilih mengungsi ke kamar orang dewasa tiap kali kakaknya membuat keributan.  Gegar Kedua.

Hingga saat ini belum ada lagi betis anakku yang mulus, hadir bilur-bilur  baret atau memar.  Salman 3 kali jatuh, Yasmin entah berapa kali yang tak ketahuan.   Semuanya berkat kondisi lingkungan yang terlalu mengasyikkan untuk diekplorasi.   Tiang pergola, selokan yang dialiri air bening deras sampai binatang sejenis keuyeup dan kodok dan keong dan londok (kadal air) sampai ular sawah pernah mampir di rumah.  Gegar  Ketiga.

Belum lagi hari-hari terakhir ini, ketika aku melihat si Ayah menenteng-nenteng meteran dan mengukur-ukur ruangan depan carport.  Aku tadinya tak penasaran, kupikir sedang mengukur berapa panjang vitrage yang diperlukan untuk membuat sekat ruangan ‘gudang’ dari bahan gorden di situ.  Tapi apa jawabnya : “Rasanya cocok kalo mindahin lokasi dapur ke sini.” 

Oh yang terakhir bikin aku bukan sekedar gegar lingkungan, tapi bikin aku mendekati gegar otak!  Capex deh…   :D

7 pemikiran pada “Pasca Pindahan

  1. @Anis : beeerees? aku khawatir ini adalah awal dari gelombang perubahan renovasi rumah berkelanjutan😀
    @Aditia: what arE u laughing about when I’m so damn serious? *bari bolotot*
    kidding😛
    i’m so happy with this house.

  2. ya! awal dari the ” mendandani tiada akhir ” lumayan setelah lama ngontrak dan menjaga rumah orang sebagaimana adanya🙂

  3. @ ayah yudi: kalo boleh, sementara ini bubu pingin menikmati dulu apa yang ada dan bersyukur… tapi tolong diingatkan bila malah jadi lembam ya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s