D  Jumpa lagi…..

Minggu-minggu terakhir ini, tatapan mata kami sudah sama seperti tatapan Salman setiap kali menyaksikan kejadian dari rumah hybrid kami.

 Penuh Harap

Sudah ada banyak rencana dikepalanya. 

Bukan salah siapa-siapa…

Tapi karena kontrakan sudah akan berakhir bulan ini.   Kami tidak mau jadi homeless.  Haha 😀 

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pembangunan struktur berlangsung cepat, yang paling lama adalah bagian finishing:  coating cat vernis pada bambu, kayu dan batu ekspose, lalu instalasi listrik, dan instalasi furniture.

Lantai Teras Belakang

Teras Belakang
Teras belakang

Langit-langit dengan cahaya alam

Lampu Teplok di Kamar Tidur

Pencahayaan siang hari dan malam hari

Tentu saja lampu teplok itu hanya bentuknya saja, menggunakan bohlam listrik, bukan minyak tanah.  Dinyalakan hanya pada waktu tidur.

Untuk memberi cat vernis pada obyek kayu dan bambu pada bangunan rumah, harus menunggu hingga cukup kering.  Di tengah cuaca hujan dengan petir begini, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menunggu. 

Sementara menunggu, kami membangun pergola.

Mobil kecil 

Daihatsu Charade kecil ini sudah melewati suka dan duka bersama kami, dia berhak menerima pergola cantik.

Seperti ini. 

Pergola 1

 Suasananya serasa di kampung banget..

Sekalian membuat atap teras depan untuk menampung tetangga yang ingin bengong bersama.

Pergola 2

Karena ini bukan rumah di kampung dengan luas tanah berhektar-hektar di kelilingi oleh kebun buah-buahan, melainkan hanya rumah berlahan sempit di komplek perumahan rakyat, maka issue yang bisa menyulut konflik dengan tetangga harus diminimalisir.

Oleh karenanya, kami terpaksa membangun tembok tinggi di pagar samping depan rumah.  Bukan supaya kami tidak peduli dengan tetangga, tapi karena kami berusaha supaya limpasan air dari atap pergola tidak jatuh ke halaman tetangga kami yang bernama pak Irwan dan bu Shinta yang punya anak perempuan bernama Naura yang telah menjalin pakta persahabatan dengan Yasmin.

Batas Pergola dengan Tetangga

Supaya terlihat peduli, kami memasang hiasan bata bolong untuk sarana komunikasi visual dengan mereka.

Bata Bolong

Maksudnya cukup untuk mengintip hehe 😀

Hiasan teralis bambu yang dipasang di antara tiang depan teras maksudnya supaya antara teras dengan jalan tidak terlalu blong, ada penghalang udara dan debu jalanan.   Kami belum memasang pagar.

Kami belum memasang pagar, menuruti saran dari Salman yang telah selesai melakukan security check.  

Security Check

Situasi aman bos!

Kami memercayainya.

Nanti, setelah muncul isu keamanan, dan fresh budget tentunya, pagar carport adalah prioritas 😀

Iklan

23 pemikiran pada “Rumah Hybrid : Minggu 4 dan 5

  1. Ketika TD bilang bermaksud belajar kecapi suling juga, Papah malah berpesan gini : jangan terlalu nyentrik ah, nanti keliatannya ekstrim. Susah deh yang setengah sunda setengah jawa.. hehehe but I’m gonna do it anyway.

  2. boleh tany detil ngga. tanah brp meter, bangunan brapa? n habis brpa duit? boleh share denahnya tertarik nich apalagi da kolam ikan nyaa heheheh

  3. @Echo: Boleh aja. Luas tanah 128m2, bangunan asli 39m2, setelah dibangun ya jadi nyaris seluas lahan… buat sirkulasi di belakang rumah ada lahan kosong 3,5 x 2,5m2. Di depan ada taman 2,5 x 5m2. denah dishare? mungkin nggak kan banyak berguna karena tiap rumah pasti bersifat unik dan keperluan ruang sesuai dengan kebutuhan penghuni rumahnya. Trus disesuaikan dengan arah mata angin pula. Lagian denahnya dipegang orang YBI.

  4. @Samuel, kasih murah dah buat ente…
    dulu waktu aku bangun sih dikasih 800rb/m2 tapi itu sebelum BBM naik, elpiji naik, sembako naik, minyak tanah ilang dari pasar, so bayangin sendiri deh kenaikannya. Langsung hubungi pak Jatnika aja di Yayasan Bambu Indonesia ya untuk konsultasi lebih lanjut.

  5. Amin pak Narno Amiiiinn…..
    saya pernah dengar bahwa orang yang yang berniat membangun rumah termasuk yang dijamin rejekinya oleh Allah (untuk keperluan itu), juga orang yang berniat menikah.

    1. Pertama, niatin dulu dalam hati,
      Kedua, berikhtiar untuk memulai mewujudkannya,
      Ketiga, minta diusir ama mertua biar kepepet pindah 😀

      Semoga cepat terwujud keinginannya ya Fin… 🙂

  6. “Ketiga, minta diusir ama mertua biar kepepet pindah”

    So inspiring…
    Biarpun dalam konteks becanda, tapi kena banget 😀
    Googling soal batu bata, tapi malah ketemu rumah bambu. Bagus banget! Sebab saya sudah ada rumah (di perumahan), tapi masih asli bangunan dari developer. Pengen segera dibenahi agar dapat ditinggali. Secara masih numpang rumah ortu..

    1. Sama dong, rumah hybrid saya juga setengahnya bikinan developer di dalam perumahan. Tetangga kiri kanan belakang, beton semua bangunannya.
      Kalo udah niat sih insyaAllah rejekinya bakal ngumpul… buktikan sendiri deh.

  7. minta no telp pak jatnika dunk?

    saya sudah tulis info mengenai yayasan bambu indonesia di salah satu posting di blog ini, no telp beliau sudah saya tulis di situ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s