Yasmin & Kakek JojoYasmin & Kakek JojoYasmin & Kakek JojoAku adalah anak zaman
yang bimbang tentang dirinya:

Berpikir apakah semua bisa dibuat seperti mie instan
Apakah semua bisa dicetak di pabrik
Apakah semua bisa dibuat knock down dan portabel
Apakah semua bisa dihubungkan dalam satu jaringan
Apakah semua bisa dibuat transparan
Apakah semua bisa dijelaskan
Apakah semua bisa diatur dan diperkirakan
Apakah kamu, kamu? Aku, aku?
Apakah kita sebenarnya orang lain yang bertopeng seperti kita, aku dan kamu?

Mengapa misteri sudah kehilangan pesonanya saat ini
Dongeng tiada lagi
Khayalan jadi menipis, mengasap, mengabut, mengabur
Mimpi kita jadi seragam
Bahkan Tuhan pun perilakunya ingin diprediksi

|||

~

Apakah masih ada anak lagi yang masih dibesarkan dengan:
air mengalir membasuh kakinya dengan wangi sungai yg khas,
melihat arusnya berlalu
tanpa peduli untuk berhenti setelah membentur batu.
Menikmati siklus air ketika turun dari awan cumulonimbus,
melihatnya hilang meresap dicecap bumi yang haus

~
Memeriksa sekitaran dari puncak pohon, berkenalan dengan semut rangrang

~
Mendengar alunan kecapi suling, atau harmonika
Pereda gelisah jiwa

~

Apakah ada banyak anak saat ini yg bertanya-tanya kenapa:
”Ayah dan bunda siang tiada,
Mengapa harus selalu cepat-cepat dan tidak menikmati prosesnya,
Mengapa bersihnya rumah telah membuat kotor kami punya jiwa
Ketika dinding polos itu sebenarnya bisa berwarna, dengan ungkapan tulus yang kami rasa.”
Ataukah mereka hanya menerima aturan, yang sudah dicetakkan untuknya, tanpa mengetahui mengapa harus ada?

~

Apakah ada banyak anak yang masih bisa bertanya begini:
“Bolehkah kami berharap menjadi diri sendiri?
Menjadi seniman hati yang paham memetik dawainya dengan alunan nada2 diri
Menyelaraskan emosi dengan kehidupan
yang senantiasa menantang.
Menelisik setiap kedalaman dan sudut, mengukur diri dan rekan interaksi agar senantiasa bertumbuh, berkembang, menyasar ke dasar.
Dalam harmoni.”
Ataukah mereka langsung mencontoh, apa yang ada di dalam tembok pagar rumahnya yang tinggi?

|||

~

Apakah zaman yang bimbang akan terus bimbang
dalam perjalanan yang seolah tak berbatas waktu
Tertipu dalam kefanaannya.
Adakah kita berani,
melepas anak-anak kita ke pelukan kehidupan
jatuh dan bangun, namun dalam rangka tempaan

Menuntun dengan falsafat yang tertuang dalam ajaran-Nya

~

Ataukah keberanian itu hanya dalam wacana
Yang tiada wujudnya.

Membiarkan zaman terus menerus
dalam bimbangnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s