======================================================================

*Shout Out!*  Gerakan Matikan Lampu Satu Jam mendunia.   Toronto, Sydney, Tel Aviv, Kopenhagen, dan kota-kota di Asia, Eropa, dan Amerika Utara akan mematikan lampu selama satu jam pada 29 Maret 2008 sebagai bukti komitmen menekan pemanasan global.  Juga sebagai reminder bahwa setiap orang bisa berkontribusi dalam mengurangi dampak pemanasan global ini.  

Oh ya, tanpa harus ikut gerakan ini pun di rumahku sudah sering dimatikan PLN, selama beberapa jam, malah kadang tak ada hujan tak ada angin.  So, jadi ikutan apa nggak?  Hell yeah ikutan dong! ======================================================================

Perjalanan jalan-jalan santai  dengan suami dan anak-anak pagi hari itu:  iseng-iseng kami turun ke lembah sungai Ciliwung yang melewati bagian belakang perumahan yang kami tinggali di Cibinong.  Melewati tanah yang dimiliki Yayasan Bambu Indonesia. 

Anak-anak menyukai suara gemericik air sungai yang tak henti-henti, dan aku menyukai kesegaran bau khasnya.   Tapi pagi itu kami berhenti di tebing pinggir sungai, karena terlalu curam untuk dituruni.

Sejenak aku terlempar ke masa kecil…   ketika tanpa sepengetahuan nenek aku sering berkunjung ke sungai yang melintasi wilayah kampungku.  Berloncatan di atas batu dan sekali-kali sengaja memelesetkan diri supaya teman-teman sepermainan tertawa…  Kalau aku melihat anakku seperti itu sekarang ini, coba saja!  Aku pasti sudah stress duluan.     Hanya bisa berdoa supaya tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Karena ada keperluan konsultasi mengenai desain perluasan rumah baru kami yang rencananya akan dibangun dengan bahan bambu, maka kami menyempatkan diri mampir ke salah satu bangunan rumah yang ada di situ.  Mencari tuan rumah tentu saja. 

Tidak semua orang bisa lancar bertemu tokoh sentral di Yayasan Bambu Indonesia ini, secara dia bisa berada di mana-mana dalam waktu satu hari.  Sarapan di Makassar, baca koran di Bandung, ketemu client di Jakarta, mandi di Bogor seperti itu lah.  Pak Jatnika namanya.  Bila bambu yang menjadi persoalan, beliaulah tempat yang tepat untuk ditanya.  Tapi selain bambu, beliau juga punya ilmu-ilmu yang lain, yang didalami melalui berguru pada karuhun turun temurun. 

Salah satunya adalah senam buhun, yang telah dipraktekkan oleh leluhur tatar Sunda setelah masa penyebaran Islam.

Caranya mudah, hanya dengan mengucapkan satu per satu huruf Hija-iyyah.   Alifffffff………  Ba……   Ta…………… Jimm….. haaa………… kho………. Dal…..  dst hingga Ya….

Mengucapkan tujuh huruf saja…. dengan teknik yang benar tentu saja, dan dilakukan secara konsisten setiap hari, menurut beliau… sudah cukup untuk membangkitkan kembali kewaspadaan syaraf-syaraf motorik dan sensorik dalam tubuh kita.   Membuat tubuh terasa segar dan bersemangat.

Begitulah salah satu cara nenek moyang kita di daerah Sunda dalam menjaga kesehatan mind body soul  yang perlu kita ketahui..  Aku tulis di sini supaya suatu saat ada seseorang yang menelitinya, menggalinya lebih dalam dan menyebarluaskannya. 

Siapa tahu seseorang itu aku sendiri.

Jadi jangan tanyakan lagi apa manfaatnya membaca Qur’an tanpa mengetahui artinya.  Ternyata dengan membacanya saja, pada setiap hurufnya kita telah mendapat ganjaran yang tidak kita ketahui.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s