Kondangan di sini bukan berarti kondangan yang sering kita dengar sehari-hari.. tapi merupakan istilah yang dipakai untuk merujuk pada buah tangan yang ditukar dengan buah tangan dari keluarga yang dikunjungi.  Kebiasaan masyarakat desa di daerah Kuningan – Cirebon bertukar ‘kondangan’ diselenggarakan ketika keluarga atau kerabat dekat mengalami peristiwa berikut : kelahiran anak, sunatan, pernikahan, kematian, atau membangun rumah.

Tata caranya sebagai berikut:  ketika berita tersebar bahwa salah satu keluarga/kerabat mengalami salah satu peristiwa di atas, maka kita membawakan untuk keluarga tersebut buah tangan yang biasanya berupa bahan makanan seperti beras beberapa kilogram ataupun makanan yang sudah diolah, yang dimuat di satu/dua baskom ukuran sedang.    Setelah silaturahim selesai, maka pulangnya baskom yang kita bawa akan diisi lagi dengan bahan makanan/makanan yang lain.

Tradisi ini kuketahui ketika kami tinggal di Kuningan beberapa hari untuk mengurus meninggalnya Bapak Mertua di Desa Kadugede, Kabupaten Kuningan.  

Seperti tradisi muslim umumnya di Indonesia,  setelah meninggal diselenggarakan tahlilan selama 7 malam berturut-turut.  Tahlilan memang bukan termasuk dalam syariat agama, tapi fungsinya lebih pada penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan selain mendoakan keselamatan bagi almarhum.

Di Kuningan, penyelenggaraan tahlilan dibarengi dengan pembagian sedekah makanan dari pihak keluarga yang meninggal yang diberi istilah ‘berkat’ yang dibawa pulang  pada  malam pertama dan ketujuh.   Biasanya terdiri nasi dan lauk pauknya, ditambah buah pisang/jeruk dan satu atau dua jajanan pasar sebagai pelengkap, dengan wadah besek dari anyaman bambu atau plastik/dus kotak.  Pada malam kedua hingga ke enam, hanya disediakan jajanan pasar di piring-piring yang diedarkan untuk disantap di tempat.

Dan kebiasaan yang lain, setelah selesai tahlilan, mereka mengobrol berlama-lama sambil merokok.

Namun ketika aku berada di sana, tradisi merokok sambil mengobrol ini harus dilakukan di teras rumah.  Ibu Mertuaku yang menyatakan langsung larangan ini, karenanya mereka tidak bisa menolak.   Maklum saja, menantu tersayangnya alergi asap rokok!

Yah, walaupun sudah tradisi, tapi kalau buruk, apa salahnya dihentikan.  Seperti tradisi persembahan darah manusia pada dewa2 di masa paganisme dulu, yang dihentikan oleh Allah dengan peristiwa Ibrahim yang diminta mempersembahkan Ismail namun diganti dengan gibas.

Kembali ke tradisi kondangan tadi, fungsinya sebagai pengerat tali silaturahim.  Keluarga yang dikunjungi akan merasa sangat dihormati bila kedatangan kerabat/keluarga yang jauh, karenanya merasa perlu memberi lagi buah tangan untuk di bawa pulang.    Tapi mudah2an tradisi ini tidak menyuburkan budaya pragmatis atau pamrih, yaitu bila memberikan sesuatu maka otomatis langsung mengharapkan balasan yang selayaknya.

Hmm… ini hanya terjadi di desa-desa.   Aku ingin juga ah memulainya di kota-kota.  Maksudku, mulai membudayakan berkunjung ke rumah teman (satu) dengan membawa buah tangan (dua).  Itu dua hal yang ingin kulakukan mulai tahun 2008.  Tapi gak perlu mengharap diganti lah hahaha….

Iklan

3 pemikiran pada “Tradisi Kondangan & Tahlilan di Kuningan

  1. Ternyata Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

     REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

     CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s