Yang tinggal di seputaran kota kecamatan Cibinong, mungkin bersorak girang ketika mendapat kabar Carrefour baru dibuka, pas di dekat  perempatan fly over, yang bisa dibilang sebagai  pusat keramaian karena keberadaan pasar, kantor beberapa bank, kantor polisi, juga terminal angkutan kota dan bis. 

Gimana nggak senang, mau belanja apa aja Carrefour menyediakan.  Mana tempatnya bersih, nyaman dan lengkap, kurang apa lagi coba?  Asal berani/mampu bayar lebih mahal sedikit dari pasar tradisional.   Sedikit? 

Wait a minute… now hold it right there…! 

Selama ini mungkin aku digolongkan oleh tetangga di lingkungan rumahku sebagai wanita karir yang berpenampilan rapi dan mapan, dan sebagai urutan selanjutnya: kalau belanja di tempat yang bersih dan nyaman walaupun mahal tidak mengapa.  Kekekekekek… mungkin lho.

Aku sendiri ngaku memang nggak anti belanja di Giant, Carrefour maupun Hypermarket, suka-suka aku mau belanja di mana. Tapi eng ing eng.. mungkin ada yang nggak percaya kalo aku sebenarnya lebih suka kalau belanja ke pasar tradisional, yang bahkan becek pun no problem.  Bila Sabtu pagi aku tidak ambruk capek bekerja seminggu penuh, atau hujan, aku pasti berangkat ke pasar tradisional.

Justru aku cinta banget sama pedagang2 pasar tradisional, yang mencerminkan rakyat banget: rakyat sesungguhnya, dalam wajah yang lugu dan sejati namun tahan banting dan mampu hidup walau dalam tekanan, belum menyebutkan sikap tawakkal para pedagang yang sepenuhnya menggantungkan harapan atas datangnya rezeki hanya kepada Allah.  Apakah pembeli akan membeli di kiosnya atau kios sebelahnya yang menjual barang yang sama bahkan dengan harga yang sama?

Bayangkan perbandingan harga bahan makanan berikut ini dengan format  Item : harga pasar/harga hipermarket

Kerupuk Tempe/kg :  Rp 7.500,- / Rp 20.000,-

Ayam Broiler/kg : Rp 17.000,- / Rp 24.000,-

Ayam Kampung/kg : Rp 23.000,- / Rp 36.000,-

Kangkung/ikat  :  Rp 500,- / Rp 1.500,-

Udang laut/kg : Rp 10.000,- / Rp 30.000,-

Ikan Patin/kg : Rp 8.000,- / Rp 22.500,-

Pisang ambon lumut :  Rp 5.000,- s.d Rp 7.000 yg besar / Rp 20.000,- /kg 

Harga tepatnya aku nggak inget, tapi sekitar2 itulah.. Dan di pasar tradisional semuanya bisa ditawar.

Kalo aku hitung2, ke pasar tradisional bawa uang Rp 120.000,- bisa cukup untuk mendapatkan  bermacam2 bahan makanan, lengkap dari ikan, kerupuk, bumbu, sayuran dan buah2an untuk 1 sd 2 minggu  penuh!  Kalo pergi ke hipermarket seingatku tidak pernah cukup sekali belanja bahan makanan Rp 250.000,- hanya untuk keperluan 1 minggu, walaupun memang ada item2 yang hanya bisa aku beli di sana seperti susu murni cair dan yoghurt.  Tidak mengikutsertakan pengeluaran untuk barang2 rumah tangga seperti pembersih yang dari bahan kimia lho.. itu  hanya untuk bahan makanan thok.

Jadi bagaimanapun, bagiku lebih menguntungkan belanja di pasar tradisional. 

Dua minggu terakhir ini aku sedih sekali membaca spanduk yang terpampang di sekitar lingkungan pasar.. “keberadaan hipermarket mematikan pedagang pasar tradisional.. kami belum mampu bersaing dengan pemodal kuat..” demikian kurang lebih kata2 yang tercantum di spanduk..

Demi nenekku yang selalu mengajakku ke pasar untuk membantunya membawakan belanjaan, mengajariku cara menawar barang di pasar, sekaligus memberi pengalaman yang mengasah kepekaan atas kehidupan rakyat sehari-hari, aku bertekad akan selalu menyempatkan diri belanja ke pasar tradisional, dan mengajarkan hal yang sama pada anakku maupun cucuku nanti kalau masih ada umur. 

In fact, minggu lalu aku sudah mengajak Yasmin ikut ke pasar dan menikmati beceknya lingkungan pasar.  Ketika dia melihat anak2 laki2 di atas usianya sedikit sudah menawarkan jasa membawakan barang belanjaan demi selembar atau dua lembar uang ribuan.  Aku selalu memberi mereka sisa uang belanja yang kubawa di tangan, berapapun itu.    Tentunya setelah menyisihkan untuk ongkos angkot pulang Rp 2.000,-

Bisa saja di sini aku mengkritik pemerintah yang kebijakannya banyak yang jauh dari rasa bijak dan keberpihakan pada rakyat.  Bisa saja aku menyarankan ini itu supaya  para rakyat yang mencari sesuap nasi dengan cara berdagang bisa beraktivitas dengan rasa aman, nyaman tanpa tekanan dan ketakutan atas persaingan pasar yang masih dalam kendali mental mereka.  Bisa saja aku menyarankan supaya pasar tradisional dibangun dan kebersihannya dijaga supaya para rakyat yang membutuhkan barang-barang dengan harga wajar dan sesuai nilainya tanpa harus membayar tambahan untuk service yang tidak diperlukan bisa melakukan aktivitasnya dengan nyaman.  Tapi rasanya sudah banyak yang teriak-teriak di luar sana tanpa ada tanggapan.  Apa? 10 x 10?  cepe’ deeeeh…

Aku rakyat, dan karenanya aku akan hidup sebagai rakyat, prihatin bersama rakyat, berjuang untuk hidup sebatas yang kubisa sebagai rakyat.

Walaupun herannya, tetanggaku masih saja terkaget-kaget kalau melihat aku Sabtu pagi turun dari angkot keberatan dengan keranjang belanja plastik basah di tangan kiri dan di kanan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s