Hari ini aku bawa Yasmin anak perempuan sulungku yang usianya 4 tahun ke kantor.

Untung aja bertepatan dengan kepergian para bos ke tempat-tempat jauh di mana mereka nggak kan bisa nengok kantor sehari dua hari ini….  hihihi… bebas euy!

Kebetulan proyek besar udah lewat dan tuntas dengan baik.  Proyek selanjutnya baru bulan depan dimulai. Waktunya narik napas panjaaaaaanng… banget.  Bener-bener bebas dari load kerjaan.

Kebeneran lagi, beberapa malam ini Yasmin mengklaim dirinya ‘anak teteh Pipih’ 😦

Teteh Pipih adalah pengasuhnya sehari-hari di rumah.  Dia yang memandikan, mengantar mengaji ke mesjid, menunggui bermain, memasak makanan untuk sarapan, makan siang dan makan sorenya, memberinya obat kala sakit, mencuci dan menyeterika bajunya.  Walaupun khusus hari Sabtu,  Minggu dan setiap tanggal merah semua itu aku yang melakukan karena Teteh Pipih sengaja diliburkan.   Dan walaupun itu artinya aku sendiri tidak pernah mendapat waktu libur karena hari kerja dan hari libur aku tetap harus bekerja.    

Aku bener-bener langsung sedih mendengar celotehannya yang diulang-ulang itu, walaupun bibirku hanya tersenyum dan kepalaku hanya bisa menggeleng-geleng heran.  Rupanya semua usaha yang sudah kulakukan untuk mengganti waktu kami tidak bersama, masih belum cukup untuk membuatnya mengakui aku sebagai ibunya.

Mendongeng, menemani tidur malamnya, mengobrol bersama dan membacakan doa baginya masih belum cukup baginya. 

Walaupun aku sudah menerapkan cara-cara yang sehat dalam mendidik anak dan nasihat para ahli selalu aku dengarkan dan aku ikuti juga intuisiku dalam meraba hati anakku, dan aku mencintainya tulus bukan karena aku ibunya yang telah melahirkannya dan berhak atas segala bhaktinya. 

Tapi hari ini ketika aku mengajaknya melihatku bekerja di kantor, aku melihat bahwa anggapan itu tidak benar. 

Dia masih anakku yang lincah, cerdas dan penuh cinta.  Dia tumbuh persis seperti keinginanku:  kritis, berani, kuat, dan senang bercanda. 

Rupanya klaim sebagai anak teteh hanya caranya menarik perhatian ibunya.  Bagiku, cukuplah dengan candaannya itu untuk membuatku melihat lagi ke dalam diriku: apa yang telah kulakukan salah, atau apa yang belum kulakukan secara maksimal?

Jaman sekarang untuk kondisi keluarga dengan ayah&ibu bekerja, kedekatan dengan anak benar-benar sesuatu yang mewah dan perlu diusahakan dan dikiati dengan sebaik-baiknya sebelum akhirnya bertawakkal menyerahkan semuanya kepada Allah.  

Yasmin Kania Fatiha, memang namamu pas sebagai pembuka pintu hidayah, pintu ilmu dan pintu segala berkah yang kami dapatkan selama bersamamu.  Kamu membuat kami menjadi orang tua yang lebih baik dan selalu mendekatkan diri kepada Allah melalui segala perilaku kritismu.  I love you, nak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s