Dalam perjalanan ke kantor, sambil bermacet ria emang enaknya sambil dengerin radio ga ga.  Pagi ini aku dengar sesi editorial Media Indonesia mengulas urusan PTDI yg masih belum kelar.   Judul ulasannya  ‘Menyelamatkan Kecerdasan”.  Wow.   Secara PTDI adalah kumpulan orang-orang cerdas yang sangat disayangkan bila tersia-sia.

Langsung aja terlintas pertanyaan dalam hati, kenapa kecerdasan harus diselamatkan? Aku nggak terima dong.  Lha cerdas itu berarti juga mampu untuk menyelamatkan diri sendiri kok, mustinya, idealnya.  Iya nggak? 

*Nggak.  Rasain lo!

Apakah cerdas yang diidentikkan dengan PTDI adalah jenis kecerdasan yang tidak mampu menyelamatkan diri sendiri dari situasi tertentu?

Rasanya masalahnya harus diredefinisi:  bukan kecerdasan yang harus diselamatkan.  Tapi, mengapa orang-orang cerdas bisa gagal mendeteksi kehancuran PTDI yang dikelola secara lemah, dari segi hitung-hitungan kelayakan bisnis, pengelolaan anggaran yang kebanyakan subsidi pemerintah, dan banyak keluarannya berbau politis. 

Bila orang-orang itu cerdas, tentunya sudah bisa melihat jauh-jauh hari kalau perusahaan itu ‘sakit’ semenjak Soeharto tidak lagi berkuasa.  Orang yang benar-benar cerdas akan sudah mengambil langkah antisipasi.   Jangan salah paham, bukannya aku nggak simpati sama rekan2 ex PTDI yang  masih berjuang menuntut hak.  Aku yakin kalian survive, orang2 cerdas.  Bila tidak, maka gelar cerdas itu harus dicopot dari kalian.

Aku hanya ingin menekankan kalian tidak perlu diselamatkan seperti judul editorial itu.

Editorial mengulas, pemerintah harusnya melangkah menyelamatkan PTDI dengan yakin, dengan banyak alasan. 

Lagi-lagi aku nggak terima.  Sayang dong, nasib orang2 cerdas di PTDI harus diserahkan (lagi) kepada orang-orang  id gov (Leg, Yud, Eks).   Kecerdasan di tangan  syahwat. O la la.  Hanya mengulangi kebodohan yang sama.

Bukan, bukan, please jangan salah paham.  Aku juga sama yakinnya dengan kalian kalau PTDI adalah proyek visioner yang pasti sangat bermanfaat bagi Indonesia, ditinjau dari segi apapun.  Oleh karenanya sangat layak diselamatkan secara politis.

Bila pernyataanku seperti ini banyak yang tidak setuju, harap tunjuk tangan! *Pernyataan ne opo mbakyu?

O belum disebut ya… hehe.  Begini.

Indonesia, pada saat ini, secara pemerintahan, rakyat,  APBN, cadangan devisanya (aku tidak menyebutkan kecerdasannya lho) masih belum siap dalam segi material, mental, moral, spiritual untuk mengelola suatu proyek visioner seperti PTDI.  Boleh dicoba, tapi nanti akan runtuh juga karena didikan generasi orang2 yang memiliki kekuasaan saat ini adalah masih hasil didikan zaman orde lama/baru.  Kualitasnya seperti apa, tercermin dari hasil2 pembangunan yang tangibel maupun intangibel sekarang ini. 

Anggap saja aku meracau di atas, tapi doa di bawah ini serius:

“Ya Allah, mudah-mudahan sekolah alam bisa membuat kecerdasan generasi penerusku lebih lengkap : intelligence, spiritual, emotional, environmental  dst dst dst,  agar orang2 cerdas yang terpilih, masyarakat dan calon para pemimpin Indonesia di masa depan punya kesempatan hidup seimbang lahir bathin, bahagia, selamat di dunia dan di akhirat.”  Amin.

Iklan

Satu pemikiran pada “Menyelamatkan Kecerdasan (?)

  1. Amin lah. Emang bener sih.. aku juga nggak setuju kalo PTDI dipailitkan, trus dibubarkan. Itu hanya emosi orang-orang yang kehilangan pekerjaan. Nggak mikir secara integral secara nasional bla.. bla.. bla.. (aku kok ikutan meracau.. hehehe..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s