Sepulang mudik selama 5 hari dari kampung suaminya di Kuningan, Qomm memperhatikan ada perubahan pada warna daun tanaman Bambu Gendang yang dipeliharanya dalam pot di teras rumah.  Kuning, coklat dengan selingan warna hijau yang sudah menunjukkan tanda2 akan berubah warna juga.

Kasihan kau, pikirnya seraya meraih selang air yang tersedia di teras, lalu membuka keran air PDAM dan mengarahkan selangnya ke arah pot-pot tanaman yang hanya ada sedikit.  Selama 5 hari tak ada yang mengurusi, matahari pun hanya dapat sedikit di pagi hari.  Tidak heran bila kondisinya begitu memelas. Qomm berjanji dalam hati untuk menanam Bambu Gendangnya di bawah matahari langsung bila sudah pindah ke rumahnya sendiri.  Tidak di bawah kanopi berlantai semen seperti rumah kontrakan yang sekarang ditempatinya.  Tidak menyisakan wilayah tanah untuk resapan air.

Saat ini sudah 2 hari lewat, tapi si Bambu Gendang yang telah berjasa menghalangi debu jalanan masuk ke halaman rumah masih juga meranggas kering.  Qomm memeriksa tanah dalam potnya, sudah berkurang ketinggiannya dari semula waktu menanam.  Mungkin akar si Bambu berebutan menyerap unsur hara tanah yang sudah langka, atau malah sudah habis?  Qomm jadi merasa bersalah.

Qomm bisa meminta orang untuk menambah tanah dalam pot, sementara belum bisa dipindahkan ke bumi di mana rejeki pohon bisa bebas dicari tanpa batas.  Dengan cara itu untuk sementara masalahnya bisa diatasi.  

Lalu bagaimana dengan arus urban yang berdatangan untuk mencari rejeki dalam pot kota yang terbatas?  Bukankah rejeki dari Allah bisa lebih banyak diusahakan dari tanah basah di lapangan terbuka sana?  

Yang bisa mengatur pembukaan lapangan kerja di daerah-daerah di luar kota besar hanyalah negara, dengan intrumen pemerintahnya.  Dan rejeki yang ditumbuhkan dari tanah adalah kekayaan sumber daya alam yang luar biasa besar potensinya.   Dengan adanya perguruan tinggi yang khusus untuk bidang pertanian di Bogor, Qomm jadi makin tidak mengerti mengapa bidang ini belum masuk sebagai strategi utama pemerintah dalam bidang pengentasan kemiskinan.

Qomm memandang Bambu Gendangnya dan berjanji, Bambu Gendang yang telah berjasa tak boleh mati. 

Iklan
Posted in Tak BerkategoriDengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s