Ramadhan tinggal 1 atau 2 hari lagi. Ahh…

Banyak catatan di bulan ini yang menandai kedewasaanku yang tumbuh terlambat.  Selain proses detoksifikasi fisik, puasa juga sangat terasa mendetoksifikasi batin.

Pekerjaan yang baru lalu adalah memimpin tim auditor yang beranggotakan para auditor senior.   Aku perlu meyakinkan diri sendiri bahwa aku mampu.  D, seorang anak perempuan kampung yang senang berlari-lari (emangnya Heli), harus bisa berbicara di depan para auditor senior, dan bukan itu saja, memastikan segala sesuatunya yang berkaitan dengan aktivitas audit berjalan lancar.

Ketika badan dalam kondisi puasa, pikiran menjadi jernih dan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan tergambar jelas di benak.  Ini pertanda malaikat lebih efektif menyampaikan ilham pada manusia bila si manusia sedang berpuasa.  Ustadz juga menginformasikan, bahwa manusia yang sedang berpuasa doanya akan dikabulkan oleh Allah.  Apakah ini berarti hijab yang menghalangi manusia dengan Allah dan alam keilahian dapat tersibak satu per satu dengan cara berpuasa?  Bila ya, rasanya aku ingin berpuasa terus.  Merasakan perut yang kencang karena lapar sekaligus cemas.  Merasakan apa yang dirasakan para pengungsi yang harta bendanya ludes kebakaran.  Merasakan laparnya anak jalanan yang tidak tahu caranya pulang.  Ini salah satu cara Allah menuntun manusia dekat pada-Nya. 

Ketika aku sambil deg-degan berbicara di depan para auditee ketika closing meeting, ada auditee yang menolak hasil temuan mentah-mentah.  Aku hanya bisa tersenyum maklum.  Untuk membalas pidato bantahan selayaknya, energi sudah tak punya.  Tapi ternyata memang lebih baik begitu.  Bersabar menghadapi auditee yang defensif.  Karena bila apa yang kulakukan dilandasi niat untuk perbaikan, maka tidak ada perasaan ‘mbung eleh’ yang biasanya muncul, apalagi kalo merasa benar.  Dan ini mencegah debat kusir yang memuakkan orang lain yang tidak berkepentingan.

Ketika mempresentasikan hasil audit di depan GM dan seluruh jajaran manajemen, lagi-lagi Allah menolongku dari demam panggung dan presentasi dapat diterima dengan baik tanpa bantahan yang kucemaskan.   Melihat semuanya bergulir dengan lancar, tepat pada waktu yang dijadwalkan, hatiku menjerit  Subhanallah…  Allah telah menjadikan aku lantaran bagi suatu perubahan yang menuju perbaikan, walau hanya di skala yang kecil perusahaan tercinta ini. 

Moral of the story:  bila Allah yang menggerakkan, maka tidak ada yang mampu menghalangi-Nya menjadikan sesuatu.      

Penurunan berat badan menjadi saksi bahwa aku sudah menguras energi selama Ramadhan ini.  Sayangnya, aktivitas yang padat ini tidak berkaitan dengan ibadah keagamaan.  Kabar baiknya, aku sudah menuntaskan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku.   Dan ini pertanda kedewasaan yang sedang tumbuh.

Dulu-dulu jarang sekali aku mau bertanggung jawab kalau sudah bosan dengan apa yang kukerjakan.   Ciri kanak-kanak kan, mudah bosan?

Akhirnya kepuasan kerja yang begitu dijaga dengan hati–hati oleh para pemimpin  perusahaan ini,  kudapatkan dengan cara menuntaskan pekerjaan dengan hasil baik.  Pada gilirannya, tingkat kesehatan jadi meningkat karena kepuasan dan kedamaian yang meliputi hati.    

Iklan

Satu pemikiran pada “Catatan Ramadhan 1428 H

  1. benar d, pekerjaan harus ikhlas untuk akherat, di dunia kita berbuat baik mencari ridha Allah. Allah katakan : Barangsiapa menolong Allah, maka Allah pun akan menolong dirimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s