Blog hari ini akan berisi cerita tentang polusi udara.   

Bukan masalah berat yang terkait global warming sih, tapi yang lebih berat pada masalah kesehatan perut. Bukan… Bukan bau kentut… hehe terkecoh lagi
kan?  

Ceritanya harus memutar dulu pada kejadian rutin tiap hari kerja, di perjalanan pergi dan pulang dengan mobil tetangga yang dipake carpooling oleh pemiliknya…… 

Urut-urutan naiknya penumpang semenjak mobil keluar garasi adalah sebagai berikut:   pertama kali aku dan suami, karena rumahnya paling dekat.  Lalu 2 orang ibu yang melakukan pencegatan mobil di perempatan besar jalan pemda.  Setelah itu di pangkalan, baru penumpang lainnya hingga mobil 8 seater itu penuh.   Selama perjalanan, sangat jarang aku mengajak penumpang lain bercakap-cakap kecuali hanya di awal mereka naik, dan ketika akan turun. Hanya kuat bertukaran 2-3 kalimat, setelah itu selesai.  Hanya cukup untuk basa-basi tak penting.  Mereka mungkin menganggap aku jutek.  Tapi aku melakukan aksi diam justru dengan alasan yang sangat baik: aku sedang berusaha menyelamatkan jiwaku sendiri, dan jiwa orang lain di dalam mobil. 

What?  

Mungkin kalian menganggap aku mengada-ada, terserahlah itu. Tapi dengar dulu: aku punya alasan yang baik. 

Bila aku tidak mengungkapkan ini di blog, orang bisa menganggap aku rasialis, karena ibu2 yang naik di perempatan itu salah satunya beretnis Tiong Hoa.  Padahal swear bukan karena itu!

Masalahnya ada padaku sendiri sebenarnya. Dianugerahi hidung yang mungil, tidak berarti hidungku tidak berfungsi dengan baik. Justru Allah melebihkan aku di situ.  Dengan penciuman yang tajam, ada bau aneh sedikit saja, membuat hidung, otak dan lambungku langsung bereaksi. 

Tiap kali aku bercakap-cakap dengan salah seorang dari kedua ibu itu, aku nggak akan bilang yang mana, lambungku langsung berkontraksi, karena  -maaf- hidungku mengirimkan sinyal bau kurang ajar yang tak tertahankan ke otak!   Daripada aku muntah dan pingsan, atau bertahan tapi dengan resiko mengorbankan penumpang lain -atau lebih bahaya lagi, sopir- karena bayangkan kondisi mobil yang tertutup rapat, dengan AC yang sirkulasi udaranya hanya berputar-putar di dalam, apa yang mungkin terjadi?  Yes, goddamit, aku lagi bicara tentang bau mulut sedari tadi!  

Banyak orang nggak sadar kalik ya bahwa bau mulut mereka membuat pergaulan jadi terbatas.  Padahal bila mereka punya pola makan yang sehat, mungkin isi perutnya tidak akan mengeluarkan bau yang  sebusuk itu.   Bahkan mungkin ibu yg tadi, berpotensi tidak perlu melajang seumur hidupnya seperti yang terjadi sekarang.    

Pada perjalanan pulang, ada ibu2 lain yang bekerja di perusahaan alat medis yang menjadi anggota tetap mobil carpool tetangga kami.  Dia biasanya duduk bersebelahan denganku berdua saja di bagian belakang mobil.   Aku merasa aman karena dia lebih senang membaca koran daripada mengobrol.  Tapi suatu waktu cellular phonenya berbunyi:

Ting Ting Ting!

Ting Ting Ting!

Ting Ting Ting!

Ketika menjawab panggilan dari ujung sana, suaranya mendesah.  ‘Ya dokter? Apa yang bisa saya bantu dokter?’   dengan suara lembut basah yang membuat jantung dokter atau pria mana pun jadi ajojing.

Namun tiba-tiba ada bau tercium di dalam mobil membunyikan alarm di kepalaku.   Bahaya! Bahayyya!      Sayang di kursi belakang tidak ada jendela yang bisa dibuka untuk menyelamatkan jiwa kami.  Ketika percakapan berakhir pun, udara jahat itu masih berkeliling menebarkan aroma setan. 

Aku sudah hampir mencapai tahap disorientasi.  Wajahku membayangkan air muka cemberut dan tegang… 

Ketika kemudian mobil berhenti, pintu membuka dan dia pun turun, paru-paruku langsung menyemburkan udara beracun itu dan menukarnya dengan kesegaran alami oksigen angin malam.   Ah… segarnya…. bercampur-campur debu sedikit tak apalah, masih ada lendir di rongga hidung.

Fiuh. 

Tapi tak mungkin aku hidup dalam kebohongan seperti ini terus!  Karena aku bukan orang sombong, dingin ataupun jutek.  Dan perilaku ini kuduga mulai menuai prasangka yang tidak sehat di antara penumpang carpooling.

Bagaimana ya,  untuk mencari cara yang tidak menyakitkan untuk menyampaikan kenyataan tadi pada pihak-pihak terkait.  

Ada ide?

(Bau mulut, atau halitosis, biasanya diakibatkan dari masalah dalam organ pencernaan yang tidak berfungsi baik, mulai dari penumpukan bakteri jahat di mulut, sakit radang tenggorokan yang parah, lambung yang luka, hingga usus yang kotor.  Untuk menyembuhkannya, tidak cukup dengan cairan pencuci mulut atau mengulum pastilles, tapi harus memperbaiki pola makan hingga saluran pencernaan menjadi sehat kembali.  Bau mulut yang disebabkan pencernaan yang kotor, biasanya diiringi dengan bau keringat yang menyaingi bau kambing beserta kandangnya.   Jadi tolonglah, demi kesehatan jiwa dan raga kita semua, jaga pola makan yang baik.)   

Iklan

Satu pemikiran pada “Bukan Jutek Bukan Sombong

  1. Seperti vendor-ku, organ pencernaannya tidak berfungsi baik, karena suka minum kalee. Aku kalo bicara ama dia nahan napas… padahal jarak sudah 1 meter tetap kecium baunya. Sampai mau pingsan… dannn… aku tidak tahu cara memberitahukan bau mulutnya… 😦

Comments are now closed.