(Btw tulisan ini dimulai udah lama, ditulis di dalam mobil travel 2 minggu lalu ketika harus ke Bandung, tapi baru diselesaikan hari ini.  Rasanya nggak basi kok.  Tapi jangan baca kalo nggak mau kesel hehe… soalnya judulnya mungkin nggak menggambarkan isinya.  Aku emang bingung mau dikasih judul apa ya, untuk racauan kali ini?) 

Aaaah ….

Subuh yang damai ketika memulai perjalanan dinas di dalam KIA Pregio yang lapang ke ibu kota TELKOM.

Bogor di kala gelap menyelimuti, dengan hawa dingin namun segar,  membuatku berharap bisa menangkap sekilas bayangan malaikat penabur rezeki yang tengah sibuk bekerja semenjak fajar. 

Aku selalu menganggap Bogor sebagai kotaku, bagaimanapun semrawutnya dia saat ini, karena aku terikat kenangan masa-masa pertumbuhanku.

Bila ditanya berasal darimana, aku sudah siap dengan jawaban Bogor, meski bila melihat KTP orang akan mengernyit, karena disitu tercantum  Bandung.  Masa bodoh, zaman globalisasi begini tidak penting lagi menanyakan asal-usul.  Seolah-olah bila kita berasal dari daerah yang sama maka kita harus saling mendekatkan diri.  Padahal mungkin kasusnya seperti aku, cuman numpang lahir di Bandung. 

(Aku jadi nyengir bila memikirkan kemungkinan jawaban yang bisa diberikan. Bila aku Hani mungkin jawabanku:  aku berasal dari sumberjiwa….jreng jreng…   

Aku sendiri akan menjawab gini ah:  dari taadi…

Hihihi..

Aku merindukan pemandangan ribuan kelelawar menginvasi wilayah langit, yang kini tak kutemukan lagi.   Mungkinkah mereka migrasi ke langit kedua?  Bogor ini bukan surga lagi: udaranya panas tak terkira, apalagi di terik bulan puasa. 

Ketika kendaraan besar ini melewati rumah demi rumah sahabat waktu dulu kami remaja, dalam diam kuberharap semoga kami dipertemukan lagi, supaya kami dapat menyatukan kembali silaturahim.

Semoga mereka dan keluarganya masing-masing sebahagia aku. 

Suara hatiku sekonyong-konyong memprotes, kenapa tidak kau telepon saja mereka? Kau ini orang TELKOM macam mana, kok tidak memanfaatkan teknologi. 

Hahaha… Aku jadi ingin tertawa sendiri.  Penyakit yang satu ini memang  menggangguku. Mungkin keparahannya masuk Stadium 4.  

Untuk beberapa orang yang bebas dari penyakit ini, tak kan susah menyambar gagang telepon lalu langsung mengutarakan maksudnya, mendapat respon secara langsung, lalu menutup pembicaraan dengan suatu kesimpulan yang memuaskan.

Aku sendiri, melakukan panggilan telepon hanya  untuk kondisi kritis.  Dan bila menerima panggilan telepon, paranoidnya sama seperti ketika menerima berita melalui telegram di tahun 80an.  

Entah kenapa aku jadi begini, mungkin perlu ahli hypnosis untuk mencuci otakku lagi.   Mungkin ada hubungannya dengan pembiasaan yang dilakukan orang tuaku dulu berkaitan dengan pemakaian telepon. 

Bagi penyuka sisi positif dari segala hal, mungkin akan menilai bahwa aku cocok sebagai karyawan TELKOM. Karena tak ada pedagang yang senang makan barang jualannya sendiri! :p    Semoga saja ini tidak diturunkan secara genetis.  Karena membuat panggilan telepon itu penting! Penting! Penting! Aku sedang menghipnotis diri sendiri nih. 

Aku ingin dekat dengan anak-anakku.  Hare gene… zaman segala sesuatu harus pakai sistem remote… kasih sayang pun perlu diremote.  Makanya harus nelepon ke rumah. Harus! Harus! Harus!

Omong kosong orang bilang bahwa orang tua dan anak hanya perlu quality time together, untuk mensiasati target kuantitas yang tak terpenuhi.  Ternyata kutemukan, tidak saja anak memerlukan kehadiran kita sebagai jasad yang memeluk dan berbicara pada mereka,  tapi juga pikiran dan perhatian dan kasih sayang dan pengertian dan kesabaran dan doa kita sebagai orang tua mereka. 

Aku punya teori baru nih, yang sudah kuterapkan untuk diteliti hasil akhirnya.   Teorinya seperti ini : Bila jasad kita tidak dapat selalu mendampingi mereka, bagaimana bila pikiran dan doa kita saja yang senantiasa diproyeksikan kepada mereka?  Bisakah aksi ini membuat hati mereka dekat dengan hati kita?

Setelah sebulan memiliki kesadaran ini, Yasmin dan Salman terbukti lebih baik dengan menurunnya frekuensi menangis manja, menangis kecewa, menangis marah, membuat onar, berkelahi dan meningkatnya frekuensi celoteh riang, tawa ria, dan napsu makannya. 

Ada komentar? 😀  

Iklan

Satu pemikiran pada “Bogor-Bandung-Cuci Otak

Comments are now closed.