Kring kring… bunyi sepeda tukang es krim lewat depan rumah.  

Eh.. sebenarnya lupa sih bunyinya seperti apa.  Mohon konfirmasi bagi yang tahu bunyi standar tukang es krim yang pake sepeda seperti apa? Biasanya sudah ada konvensi di antara setiap pedagang dari jenis yang sama untuk mengeluarkan bunyi-bunyian yang seragam, sebagai tanda pengenal bagi calon pembeli.  

Misalnya, tukang nasi goreng plus kwetiaw akan membunyikan alatnya ‘..dok dok dok dok..’ bambu dipukulkan pada bambu lainnya supaya menghasilkan bunyi agak tebal.

Tukang roti di komplek, akan memakai speaker dengan rekaman suara penjualnya yang monoton..’ roti roti … roti roti.. roti manis roti tawar roti roti…’  atau yang memiliki diferensiasi pasar seperti merk tertentu (gak kan kusebutkan) pakai jingle yang lucu, walaupun tak membuat orang yang mendengarnya jadi ngiler. 

Tukang cuan kie.. mmmm (baru ngetik namanya aja bikin ngiler hehe..)… akan membunyikan  ‘tok tok tok  tok tok… tok tok tok tok tok…’ dengan bunyi bambu yang lebih tajam dan frekuensi lebih tinggi dari tukang nasi goreng.  Sate padang, akan berbunyi ‘nyet nyet… nyet nyet’.. dari remasan balon yang dorongan udaranya membunyikan pipa peluit.  Kurang pede dengan bunyinya mungkin, tukangnya akan meneriakkan juga ‘sate padang… sate sate!’   Bila bunyi nyet2 ini ada di Bandung, maka dia akan menjadi bunyi tukang  bakso malang yang pake sepeda.  Tukang bakso biasa, tentu saja ‘ting ting ting ting’… di mana-mana sama.

Tapi kembali kepada cerita tukang es krim, hari itu hari Minggu sore, jadi kami ada di rumah.  Yasmin berteriak ‘Bubu, Kaka mau es krim!’ dan tanpa mendengar jawabanku dia langsung berlari keluar rumah.   Walaupun gerakannya begitu cepat, hingga aku terkesima, tapi karena dia meraih sendal dulu maka tukang es krim yang tadi lewat dengan sepedanya sudah berlalu.

Yasmin baru saja sembuh dari batuk jadi dia tahu kalau dia tak kan diizinkan makan es krim sementara waktu ini, makanya dia tak menunggu jawabanku.  Sudah kubilang Yasmin anak yang keras, percuma saja melarangnya hanya akan membuatnya bertekad lebih kuat lagi.  Jadi aku tak bicara banyak, biar saja dia belajar dari kesalahannya.  Toh dulu aku sudah memberitahunya tentang segala hal yang perlu diketahuinya sebagai anak kecil, tak yakin dia mendengarkan atau tidak.

Beberapa saat kemudian..  Tak dinyana dia pulang kembali dengan agak lesu, tanpa es krim.

“Bubu, Kaka nggak beli es krim.  Kaka nggak punya uang.  Kaka lagi batuk,  Kaka nggak beli es krim.”   Aku pun memeluknya.  Dia balas memelukku erat-erat.

Aku tak tahu apa yang terjadi di luar sana ketika ia mengejar tukang es krim, tapi ada beberapa skenario yang mungkin terjadi. 

Skenario 1.

Tukang es krim sudah menghilang dari pandangan sehingga Yasmin kehilangan jejak.  Dia pun pulang ke rumah.

Skenario 2.

Yasmin bisa mengejar tukang es krim.  Tapi ketika tukang es krim bertanya, bawa uang apa nggak?  Yasmin menjawab jujur, lalu tukang es krim pun melanjutkan perjalanannya tanpa memberikan apapun pada Yasmin.   Yasmin pun pulang ke rumah.

Apapun yang terjadi barusan, aku bangga pada anakku… ya bangga sekali!  Karena dia sudah mengerti bahwa bila tidak punya uang, dia tak bisa memaksa beli jajanan.  Karena dia juga mengerti bahwa makan es krim akan membuatnya batuk lagi.  Karena  dia juga tidak menangis meraung-raung setelah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.  Dan karena dia bisa menahan dirinya dari godaan mendapatkan es krim dengan segala cara yang dihalalkan anak kecil. 

Ketika dia balas memelukku erat, mungkin dia sedang menahan tangis karena tidak mendapatkan es krim.  Tapi aku tahu, dia juga sedang berkata dengan hatinya langsung kepada hatiku : ‘Bubu, aku mendengarmu, aku mematuhimu, aku menyayangimu …..’ 

Anakku…..

Iklan

Satu pemikiran pada “Yasmin dan Tukang Es Krim

Comments are now closed.