Mungkin, beginilah kondisi keluarga khususnya karyawan yang bekerja di Jakarta namun berumah di wilayah zona Perjalanan Dinas.  Kalau dihitung SPPD ….hmm… mungkin sudah kaya.  Pengorbanan yang harus ditempuh (dan paling disesali) adalah waktu untuk keluarga yang jadi sangat sedikit.  

Bayangkan jadwal harian ini : jam 06.00 berangkat dari rumah, untuk sampai di rumah kembali jam 19.00, itu dengan catatan pulang tepat waktu dari kantor.  Bila ada keperluan lain sepulang kantor, waktunya bisa mulur hingga 22.00.  Anak2 sudah kelelahan menunggu kedatangan orang tuanya, sehingga bisa jadi ketika sampai di rumah disambut dengan tangisan sedih atau kemarahan, seperti yang dilampiaskan Yasmin (3,5 tahun).

Semula, aku mengira Yasmin anak yang bermasalah dengan karakternya yang super keras dan super sensitif.  Aku melihat anak lain tidak seperti itu. Tapi setelah melakukan introspeksi lebih dalam lagi, ternyata semuanya bersumber dari perlakuan kami kepadanya, yang tidak kompatibel dengan karakternya yang unik itu. 

Anak-anak, butuh perhatian dari orang tuanya.  Hal ini tidak pernah menjadi masalah klise. 

Aku harus mencoba mengerti apa yang Yasmin rasakan ketika dia mulai menantang perintah kami atau nasihat-nasihat yang kami berikan.  Bukan itu saja, aku juga harus ekstra sabar.   Bila hal itu sudah dapat kulakukan maka tidak akan ada salah paham lagi di antara kami. 

Jadi aku mencoba strategi yang lain: alih-alih mencoba mengubah Yasmin, aku mengubah diriku.  Aku, yang paling malas bicara di telepon,  hari ini menelpon ke rumah hingga dua kali.  Pertama kali mengangkat telepon, dia sedang main di luar, kata tetehnya yang menerima panggilan di ujung.  Satu jam kemudian, dia masih belum mau menerima teleponku karena sedang makan siang tidak mau diganggu.  Aku bilang ke teteh pengasuhnya bahwa aku akan menelepon rumah setiap hari untuk menanyakan Yasmin. 

Kemarin, aku sudah membeli selimut lembut motif Strawberry Shortcake film kesukaannya.  Selama ini dia tidak biasa tidur berselimut sehingga bentol-bentol merah gigitan nyamuk sering timbul di kulitnya bila kami tinggalkan sebentar saja.  Siapa tahu dia mau mau memakai selimut kalau malam hari tiba, bila selimutnya dia suka.  

Tadi malam ketika kuserahkan selimut itu kepadanya, dia kelihatan senang sekali. Tanpa diduga, dia langsung membeberkannya di tempat tidur dan mencobanya langsung.  Kami memang masih belum diperbolehkan mendekat atau menyenggol sedikitpun tempat tidurnya ketika menontonnya membereskan selimut barunya, tapi aku tetap merasakan bahagia melihat kesibukannya.

Kejutan lain terjadi ketika tiba-tiba Yasmin memelukku.  Dia tidak mengatakan apa pun tapi aku tahu dia sedang membisikkan terima kasih bubu… dengan hatinya. 

Malam sebelumnya aku berhasil mengalahkan rasa lelah dengan mencoba memainkan sandiwara boneka sebelum tidur,  dengan menggunakan mainan bonekanya yang terdiri dari bermacam-macam bentuk binatang.  Yasmin mampu mengimbangi permainanku dengan membawakan perannya sendiri, seekor boneka anak jerapah teman setia tidurnya.  Boneka itu dari tante Lilisnya di Bandung.  Ketika tiba-tiba –out of the blue– dia mengubah suara bonekanya menjadi suaranya sendiri –”Bubu, kaka mau punya selimut stroberi coket…”  

Pagi ini ketika kami bersiap berangkat ke kantor, dia menangis meraung-raung minta ikut bubunya berangkat ke kantor.  Teteh dan ayahnya ribut membujuk, bahwa nanti siang akan ada Odisa sepupunya berkunjung, bahwa teman-teman TPA akan merindukannya dan menanyakannya mengapa tidak datang, bahwa abang becak anak-anak akan kehilangan satu pelanggannya, semua tidak mempan. 

Aku hanya memeluknya di gendongan, diam selama dia menangis.  Setelah agak lama dan tangisannya mulai reda, baru kubisikkan bahwa di kantor bubu tidak ada anak kecil untuk teman dia bermain.  Tidak ada tempat untuk tidur kalau dia kelelahan. Tidak ada selimut stoberi coket untuk menyelimutinya di ruangan yang udaranya sangat dingin sekali. 

Yasmin akhirnya menyerah dan berlaku manis kembali.  Tapi hanya setelah digendong dan dipeluk sedemikian lama. 

Malam ini sepulang kantor aku akan mendekatinya lagi dengan kasih sayang tanpa syarat dari seorang ibu, apapun penerimaannya.  Aku sudah membawakan satu pak kertas origami dan gunting yang aman untuk anak-anak, lengkap dengan lem dan buku gambarnya.   Salman (1,8)  adiknya yang memiliki karakter tenang dan halus, akan puas dan nyaman bila sudah memegang crayon dan buku mewarnainya selama aku bersama Yasmin.   Atau menonton cicak mencari makanan dengan ayahnya.

Kadang-kadang, aku menyesalkan waktu satu tahun yang dia habiskan di PAUD di PKBM belakang rumahku, di mana cerita teteh yang mengantarnya sekolah, Yasmin yang merupakan murid termuda diperlakukan sebagai anak bawang yang hanya mendapat sedikit akses untuk mengembangkan potensinya.

Guru-gurunya juga menyerah begitu saja bila Yasmin ingin main di luar kelas tatkala jam belajar, saking banyaknya anak didik yang ditanganinya.  Tapi memang Yasmin juga anak yang keras kemauannya.  Bila tidak betah lagi di kelas, dan ingin pulang ke rumah, ya pulanglah dia tanpa menunggu kelas berakhir. 

Agar tidak bosan, tahun ajaran baru ini dia mulai masuk TPA, belajar membaca Qur’an.  Dari cerita teteh pengasuhnya, di TPA setiap anak mendapat giliran ’one on one’ dengan ustadzahnya, jadi setiap anak pasti mendapat giliran belajar dan diperhatikan.  Di sini Yasmin juga tertantang untuk belajar melihat teman-teman sepermainannya di sekitar rumah juga belajar bersama-sama.   Ketika dia mulai mengeja Alif, Ba, Ta, Tsa,  aku bersyukur dalam hati karena akal, hati dan jiwa Yasmin sudah menemukan oasenya. 

Aku tidak khawatir dengan pelajaran sekolahnya yang terputus, karena pelajaran mengenal alam, gerak badan, menari, menyanyi, menggambar dan ekspresi seni lainnya kami putuskan untuk dipenuhi di rumah.  Juga penghayatan mengenai menjalin silaturahim dengan sanak saudara dan menyayangi kaum dhuafa.   

Yasmin menunjukkan penyerapan dan pemahaman pelajaran yang wajar dan bila dipikir-pikir lagi,  dia bukan anak yang bermasalah sama sekali!  Karena dia hanya menginginkan perhatian dan cinta tanpa syarat itu.  Aku tahu sekarang.  Aku tak boleh marah bila dia menangis, melainkan hanya akan memeluknya.  Aku tak boleh melotot bila dia mencubit atau menendang, melainkan menjauh hingga selesai amukannya.  Aku tidak boleh bicara saat dia menyuruhku untuk diam, dan hanya berbicara kembali bila dia mengajakku berbicara.   Dia akan tahu bahwa aku bubunya, mencintainya, sesuai dengan keinginannya. 

Setelah itu, semoga cinta membawa kebijaksanaan bagi jiwa kecilnya yang sedang bertumbuh.

Ya Allah, jadikanlah keturunan kami anak-anak yang  berbakti kepada-Mu dan kepada orang tuanya.  Jadikanlah mereka cahaya mata kami, pembuka pintu hidayah, pintu ilmu dan segala pintu rahmatmu ya Allah.  Jadikanlah mereka cahaya penerang bagi sesama, masukkan kami dan kumpulkan kami bersama di dalam surga-Mu, Amin.  Amin ya robbal ‘aalamiin. 

5 pemikiran pada “Memandang Yasmin

  1. Dina, memang ada saatnya dimana anak2 mulai belajar melawan. But, aku inget kata seorang teman kalo kemarahan/kenakalan mereka tdk perlu dibalas dg kemarahan/kenakalan kita orang tuanya (mencubit atau menjewer). Sabar ya bu…..

  2. Betapa ibu bekerja itu Superwoman ya…

    Aku belum pernah punya pengalaman sepertimu D. Selama ini fokus hidupku ya diriku sendiri. Kalo lihat anak kecil rewel… aku cuma bisa kagum.

    Aku ingat cerita seorang executive wanita Telkom di Japati. Yang sangat menyesal karena ketika anak-nya “tumbuh”, dia tidak “pernah” berada di sisinya karena hampir sebagian besar waktu, energi dan pikirannya diberikan kepada kantor.

    Saat ini, si ibu menyesal karena anak pertamanya terlibat narkoba, anak keduanya hamil ketika SMA kelas 2. Beliau level II di Telkom.

    Aku yakin, yang diperlukan anak-anak ini adalah perhatian, energi dan waktu dari si Ibu yang akan diartikan sebagai kasih sayang oleh anak-anak.

    Wish you can get through this Phase🙂

  3. Sayree and Honey,
    terima kasih atas dukungannya🙂
    Segala macam teori udah kubaca mengenai anak, tapi untuk bisa merasakankan manfaat penerapannya ternyata memerlukan penghayatan dan pemahaman yang didapat melalui fase melakukan kesalahan.
    InsyaAllah aku udah paham sekarang.. dan harus lebih bersyukur karena masalahku sebenarnya belom ada apa-apanya dibanding masalah orang lain yang lebih berat. Hi.. dasar aku aja yang nggak sabaran.
    Mudah2an nggak terjadi anak kita merasa ‘jauh’ dari orang tuanya ya… amin.

  4. Pengalaman adalah guru yang terbaik… don’t let other peoples drives what is best for you life😀

  5. Setiap anak melewati masa yg disebut ‘tantrum periode’, masa dimana anak ingin menunjukkan kemandiriannya, biasanya anak akan ‘terlihat’ membangkang dan keras kepala. Tantrum periode akan terjadi berulang dalam kehidupan anak. Temani anak melewati masa ini dengan kasih sayang, sehingga dia yakin bahwa orang disekitarnya mampu menerima dia apa adanya.Cepat atau lambatnya masa ini berakhir tergantung dari bagaimana kita orang tua mensikapinya. Happy Parenting!

Comments are now closed.