Memandang Yasmin, putri tercinta kami, rasanya …….tak dapat dijelaskan. 

Aku ibunya, selama ini sering tidak puas dengan perilakunya.  Yasmin menyuruh tetehnya dengan berteriak-teriak walaupun bisa mengerjakannya sendiri.  Bila akan dipakaikan baju setelah selesai mandi, lari-lari ke sana kemari hingga harus dikejar-kejar. 

Adiknya sudah kenyang terkena diinjak, dipukul, dicubit, sehingga kini jadi mahir juga melawan kakaknya dengan modus yang sama.  Padahal Salman pada dasarnya anak yang manis dan penyayang, kini kadang ikut begitu bila sedang mengamuk.  Bila ditawari makanan atau sesuatu yang baik untuknya, selalu menjawab ‘ga mau!’ sambil menjauh.  Bila didekati untuk dipeluk dan dicium sepulang kami dari kantor, kadang-kadang suka menjauh sambil menendang atau memukul.  Bila kami berbicara keras sedikit, atau menegur dengan lemah lembut sekalipun, dia langsung ngambek.  Katanya bubu marah, ayah marah.  Lalu menangis seperti habis dipukuli, sehingga tetangga-tetangga jadi terlanjur terbiasa.

Selama ini kami sering cemburu pada teteh pengasuhnya yang lebih bisa membujuk dan membuatnya tertawa riang.Aku heran, selama ini aku dan ayahnya selalu mendengarkan keinginan-keinginannya, keluhan-keluhannya, cerita kesehariannya dari teteh pengasuhnya.   Kami penuhi hampir semua kebutuhannya, kami selalu ingin memeluknya dan mengajaknya berbicara dengan lemah lembut. 

Bahkan Sabtu dan Minggu hanya ada kami berempat di rumah, tak ada orang luar di antara kami.  Aku berusaha melayaninya dan keluarga, seperti ibu rumah tangga layaknya.  Rasanya tak ada yang salah dengan diriku sebagai seorang ibu.  Namun memang, bila kesabaran kami menipis, dan dia terus menerus membuat masalah, maka kami jadi sering terpancing berbicara agak keras.  Aku sangat mengerti kebutuhan dia diperhatikan, sehingga menjadi sering serba salah bila sedang memegang Salman dan dia mulai mengamuk.  Kami sama sekali tidak boleh memegang Salman.  Bila keinginannya tidak terjadi, maka dia akan membuat onar sejadi-jadinya. 

Yasmin, Yasmin….  Yasmin terlahir dengan karakter yang keras, bahkan super keras. Dan sebagai bonus, juga super sensitif.   

Sangat berbeda dengan Salman adiknya yang beda 2 tahun kurang 1 bulan usianya, sangat tenang dan murah senyum.  Salman juga mudah menyerap ajaran-ajaran baru dari orang tuanya.   Kecerdasannya lengkap terlihat.  Dari perkembangan saraf motorik dan sensorik kasar dan halus.  Cara dia menghadapi masalah yang tidak mudah panik, selalu mengamati dengan tekun.  Dari tatapan matanya tajam dan tak berkedip bila sedang tertarik pada sesuatu, aku langsung tahu bahwa dia akan membuat banyak wanita patah hati.  Cara dia berempati bila kakaknya sedang menangis, yaitu dengan menampakkan wajah khawatir, atau maju menghadapi orang yang menyakiti kakaknya.  Kondisi badannya juga tidak mudah sakit-sakitan, kulitnya tidak bermasalah seperti kakaknya waktu usia 1 tahunan. 

Dengan adanya Salman, karakter liar Yasmin makin terlihat dan makin menjadi, karena dia merasakan kasih sayang kami yang berbeda terhadap adiknya. 

Bila kami tidak segera berintrospeksi dalam-dalam, kami akan jatuh dalam lingkaran setan… semakin lama semakin buruk…  

Tolong kami ya Allah.. kami ingin Yasmin dan Salman menjadi anak kami yang baik dan berkembang sesuai dengan potensinya sebagai manusia.Kami juga mohon kepadamu ya Allah, jangan sampai kami salah langkah dalam menyayangi Yasmin dan Salman, karena semua adalah milikMu.  Bimbing kami ya Allah dalam menjaga amanatmu yang merupakan buah cinta kami, permata hati kami, yang akan mengalirkan pahala penerang di kubur kami. 

… jeda…. 

Yasmin,…  waktu bubu mengandung dirimu, memang berbeda dengan Salman. 

Engkau adalah anak pertama kami, di mana kami masih belum berpengalaman.  Kami juga belum mengenal herba dan thibbun nabawi (pengobatan cara Rosul).  Sehingga vitamin semasa hamil masih obimin yang membuat pup keras dan tidak nyaman.  Obat tambah darah.  Susu masa kehamilan.  Rasanya sangat  tidak nyaman.Tapi ayahmu sangat sabar melayani bubu, mengantar ke dokter, membawa mobil setiap hari kerja ke kantor supaya bubu tidak perlu berdiri di bis dalam perjalanan pulang dan pergi.  Ayahmu luar biasa nak.  Bahkan dalam menghadapi  mood bubu yang naik turun. Bubu kadang menangis diam-diam ketika menjelang tidur malam hari.  Walaupun bubu tahu ayah tidak mengerti apa yang membuat bubu menangis, tapi ayah tetap menghadapi bubu dengan sabar. Ayah juga sering membacakan Ar_Rahman bagimu dan bagi bubu.  Jadi nikmat manakah lagi yang bubu dustakan? 

Sewaktu persalinan, dokter yang membantumu ke dunia dr Giana Hanum, seorang feminist yang tidak menikah, sebelumnya memaksa untuk melakukan bedah caesar karena engkau tidak kunjung lahir.Bubu dan ayah bersikeras untuk tidak memaksamu keluar sebelum engkau menginginkannya sendiri sehingga kami harus bersitegang dulu dengan dokter.  Akhirnya Jum’at siang engkau lahir selamat, dan sayangnya tidak langsung dipelukkan di dada bubu melainkan dimandikan dan disimpan di ruang bayi.  Bubu merindukanmu sampai malam, ketika akhirnya engkau dibaringkan bersama kami. 

Sewaktu engkau bayi, badanmu kami baluri dengan baby oil yang tidak alami buatan pabrik, sehingga kulitmu yang halus dan sensitif berteriak kesakitan.  Bercak merah dan iritasi membuat pandangan kami ngeri.  Sungguh kasihan bubu dan ayah melihatmu.  Satu-satunya salep yang menunjukkan tanda-tanda perbaikan, Elocon, mengandung steroid yang berpotensi menghambat perkembanganmu.  Maafkan kami Yasmin.. 

Sewaktu engkau usia 4 bulan, rambut bubu rontok tak terkira, meninggalkan berjumput-jumput rambut di seluruh rumah sehingga meninggalkan kesan kotor.  Sehingga ketika bubu berniat untuk menggundul habis rambut ini, ayah setuju untuk mengeroknya dengan tangannya sendiri.  Rambutmu sendiri susah tumbuh sehingga kami mengerok pula rambutmu.  Sebagai tanda solidaritas, ayah pun memapas habis rambut dengan model 321.  Selama beberapa bulan ayahmu rela menanggung pemandangan botak istri dan anaknya, rambutnya sendiri paling cepat tumbuh panjangnya. 

Namun dari semua yang terjadi, cinta kami tak terbelah hanya untukmu seorang, hingga kami memutuskan untuk mengadakan adik bagimu agar tidak kesepian, dan mengingat usia bubu yang tidak semakin muda.  

Akhirnya ASI mu harus distop ketika usiamu 15 bulan, karena bubu sudah mengandung Salman. Tadinya bubu ingin terus memberimu ASI namun eyang melarang takut gizi untuk bayi yang dikandung berkurang. 

Yasmin, maafkan kebodohan bubu dan ayahmu dalam proses mengandungmu.  Pada saat itu, kami hanya melakukan apa yang kami yakini sebagai yang terbaik… 

…jeda..Ya Allah, memandang Yasmin, aku jadi seperti memandang diri sendiri.  Jiwa yang keras, karena dipupuk dengan kekerasan dan kepahitan, benarlah adanya.Tidak heran Yasmin selalu bossy karena memang mungkin begitulah gayaku bila menyuruhnya melakukan sesuatu.  Aku selalu bersikap seperti komandan batalyon sedang memberi perintah pada prajurit.  Aku selalu mengira ia bisa menangkap nuansa humor di dalamnya, tapi ternyata tidak.  Jadi dia menganggap  aku sedang memarahinya dengan nada kerasku. 

Bila ia sedang tidak ingin dipeluk dan disayang, mungkin dia sedang merasa jauh dariku, seperti ketika dia dijauhkan sesaat setelah lahir ke dunia.  Satu-satunya jalan adalah bersabar dan bersyukur dia sehat, dan berdoa semoga Allah pada akhirnya mendekatkan hatinya pada hatiku.Aku berjanji pada diri sendiri akan menelponnya 2 kali sehari dari kantor, supaya dia tahu aku selalu ingat padanya. 

Yasmin, bubu ingin memberimu yang terbaik, tapi semoga kami tidak terjebak memanjakanmu.  Mendidikmu dengan keras adalah keinginan kami supaya kamu tidak menjadi manja.   Namun rupanya engkau tidak membutuhkan itu.Rupanya engkau membutuhkan pelukan lebih lama, lebih sering, benarkah? Untuk menunjukkan keberpihakan kami kepadamu, supaya engkau dapat melimpahkan kasih sayang yang berlebih itu kepada orang lain?    

Cinta tanpa syarat itu, itukah yang kau perlukan anakku? 

(Rasanya aku ingin membela diri : sungguh aku bukan seseorang yang tak berbatas, maafkanlah bubumu).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s