Sahabatku penasaran dengan pengalaman menulis Andrea.  Seharusnya dia tak penasaran:  karena Andrea tidak menutup-nutupi asal-usul gennya yang Melayu.  Tentu saja bukan sekedar gen, tapi juga dari mengalami sendiri tradisi masyarakat Melayu menceritakan hikayat turun temurun.  Seperti anak yang gendut  dilahirkan dari keluarga yang sebagian besar anggotanya gendut, ada dua hal yang menyebabkannya :  gen dan kebiasaan pola makan, demikianlah Andrea. 

Sebuah artikel pernah menulis bahwa Andrea seperti mengalami trance ketika menulis Laskar Pelangi dalam 2 minggu.   Mungkin terjadi ledakan motivasi ketika mengetahui bu guru tersayangnya sedang sakit keras. 

Pertanyaan ini mendorong D untuk mendokumentasikan cerita pengalaman penulis-penulis lain yang pernah D baca atau dengar, sebagai berikut:

Paulo Coelho, bila menulis, dia memaksa diri untuk tidak menunggu mood datang.  Karena mood itu bila ditunggu tidak datang-datang.  Tapi ketika dia mulai mengetikkan huruf demi huruf,  langsung terbentuk sungai aliran kata-kata yang mampu mencapai lautan dan membuatnya berdayung ke pulau demi pulau tujuannya. 

Dan Brown,  paling senang menulis di saat sepertiga malam terakhir ketika suara hati sedang kencang berbunyi, tapi dia mengakui bahwa dari satu halaman yang terbit di novelnya, istilahnya dia membuang 10 halaman lain ke tempat sampah.  Tombol Del nya mungkin sudah ganti per beberapa kali.  Bila mampet maka dia akan melakukan ini:  menggantung badannya pada posisi terjungkir supaya darah mengalir lebih lancar ke kepalanya sehingga mampu membuka sumbat pembuluh darah otaknya dan melihat sisi lain dari setiap hal yang dilihatnya.  Dia juga tumbuh dari orang tua yang sejarawan dan seniman yang menumbuhkan daya khayal tingkat tinggi semenjak dalam kandungan.

Cak Nun, selalu menekankan bahwa untuk setiap kalimat yang diucapkannya, setiap tindakan yang dilakukannya, setiap tulisan yang dicoretkannya, sebenarnya bukanlah produksi beliau, karena beliau hanyalah lantaran, media penghantar, messenger dari setiap skenario yang telah dirancang oleh Allah swt.

Scott Adams, dia adalah cartoonist jenius pemilik selera humor yang tidak dimiliki oleh orang dengan tingkat kecerdasan rata-rata.  Sering kali tulisan atau kartun yang dibuatnya harus diturunkan levelnya (dari standar yang dia punya) agar dapat dimengerti oleh orang lain dan mencapai tujuannya membuat orang berefleksi terhadap kehidupan mereka sendiri.

Melly Guslow,  bersikeras tidak mau membaca buku-buku karena selain tidak sempat, dia ingin agar tulisannya tidak terpengaruh oleh tulisan orang lain.  Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh pede yang melakukan ini.  Bravo Melly!

Satu lagi yang mungkin harus diperkenalkan, karena tulisan2nya hanya untuk mata kakaknya seorang, adinda tersayang Aditia Nita Trilestari, yang menempuh separuh dunia untuk menemukan cinta, tapi akhirnya menemukan dirinya sendiri. 

Tulisan-tulisannya dalam setiap email yang dikirimkan sungguh membuat kakak yang paling mau menang sendiri ini tertunduk malu sekaligus bangga karena dia bisa mencapai mimpi yang telah menjadi impian kakaknya semenjak dulu.  Sungguh dia harus menulis blog tentang pengalamannya membangun hidup mandiri di negeri orang.  I insist, sis! Who knows you can inspire other people too.

Tentu D tidak bisa meringkas semua pengalaman menulis tokoh-tokoh besar di atas hanya dalam beberapa kalimat.  Untuk dapat memahami pengalaman menulis mereka, seseorang harus paham juga perjalanan hidup mereka. 

Namun ada benang merah yang bisa ditangkap,  yaitu bahwa mereka semua adalah pengelana.   Pengelana dunia, pengelana spiritual, pengelana dunia khayal dan pengelana  ilmu pengetahuan yang selalu terdorong untuk mendokumentasikan pemahaman yang dicapainya untuk dibagikan kepada orang lain.   Tanpa itu, rasanya sulit menjadi penulis yang berbobot.

Pertanyaan sahabat di atas mungkin harus diganti seperti ini:  Bagaimana cara menulis pengalamanmu?

Iklan