(*Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, adalah lembaga swadaya masyarakat yang berfungsi menyelenggarakan kegiatan belajar nonformal bagi masyarakat kurang mampu dengan program PAKET A, B dan C-nya sehingga mereka bisa mendapatkan ijazah SD, SMP dan SMA.  Lembaga ini mendapatkan dana dengan cara mengajukan proposal kegiatan ke DEPDIKNAS dan pihak lain (pemerintah, swasta maupun LSM).  Untuk mendapatkan ijazahnya, siswa PAKET juga dihadapkan pada Ujian Nasional yang penuh kontroversi itu. 

Minggu lalu D marah sekali.

Pasalnya, jelas ada peristiwa yang memicunya.  Tapi semuanya terakumulasi dari beberapa hal.  Pertama, karena merasa dimanfaatkan sebagai donatur yang selama ini ‘selalu tanpa banyak cingcong’ oleh tetangga kami Ketua Yayasan MT yang mengelola PKBM. Lokasi kegiatannya di blok yang sama dengan rumah kontrakan kami.

Ceritanya memang terungkap sedikit demi sedikit, terlalu panjang kalau diceritakan di sini.  Tadinya sebagai orang yang berusaha berprasangka baik, D dan suami memenuhi saja semua permintaan donasi yang datang, karena katanya akan dimanfaatkan untuk kebaikan anak-anak PAKET.  Siapa sih yang tega menolak bila diceritai penderitaan anak-anak yang bergulung dengan kemiskinan dan kebodohan sehari-harinya? Namun siapa pula yang tak kesal bila belakangan mengetahui bahwa sebagian donasi digunakan juga untuk kepentingan yang sebenarnya tidak terlalu perlu.  Bila ditanyakan soal ikhlas, maka D akan menjawab ikhlas bila memang disalurkan untuk hal2 yang memang peruntukannya. 

Kedua,  terbuka juga sedikit demi sedikit kebusukan PKBM ini,  setelah merasakan  kejanggalan demi kejanggalan.  Turn over pengajar PAKET yang tinggi, lalu permintaan donasi untuk program-program tertentu, yang selama ini hanya lisan dan tanpa laporan realisasi.  Kemudian kabar tanah warga yang berada di sekitar lokasi PKBM sedikit demi sedikit berpindah tangan pada pemilik Yayasan.   Ada lagi informasi orang dalam, proposal-proposal kegiatan belajar yang selalu tembus, namun anehnya siswa-siswa PAKET masih selalu dimintai iuran untuk kegiatan belajar mereka.   

Demikian ceritanya makanya terkuak bahwa PKBM ternyata dibuat kedok untuk mendapatkan kucuran dana dari banyak pihak, untuk ekspansi tanah milik ketua yayasannya (walaupun katanya nanti akan dibangun sekolah setingkat SMP, ya sekolah swasta).  

Kasus yang mencuat setiap menjelang penyelenggaraan UAN program PAKET, yaitu uang kepesertaan.  Untuk ikut ujian yang katanya gratis ini, iuran yang diminta 130ribu per anak.  Padahal bagi mereka, sudah jelas uang adalah alasan utama mereka tidak bersekolah di sekolah umum.   Mereka tidak punya uang untuk makan yang layak setiap hari, apatah lagi untuk hal-hal yang sekunder.  Uang juga yang membuat mereka harus turun ke jalanan menjadi pengamen atau pemulung.  Lokasi kerja mereka adalah dari bus ke bus, dari tempat sampah ke tempat sampah lain.  Mengorek-oreknya bergantian dengan kucing.  

Apa coba yang dikatakan dalam proposal PKBM ini ketika mereka mencari dana?  Mereka menghitung headcount siswa PAKET yang akan disaluri bantuan, jumlah tutor yang mengajar, jumlah administrator yang terlibat.  Penyalurannya?  Nihil.  Jadi, siswa2 malang ini hanya dijadikan kedok…  Dibutuhkan orang-orang yang luar biasa tega untuk memanfaatkan kemiskinan orang lain bagi kepentingan diri sendiri. 

Ketiga,  D sudah mengajak seorang sahabat, seorang sarjana ekonomi yang pernah bekerja di instansi keuangan namun karena tidak tahan dengan permainan kotor di bank tempatnya bekerja, dia memilih diPHK.  Sekarang  kondisi finansialnya tidak berdaya, dan karena tadinya D merasa kenal baik dengan tetangga empunya yayasan, dia berminat berkegiatan di PKBM.    Dia diberi tugas di bagian administrasi, dan karena kekurangan guru, yang selalu datang dan pergi tidak ada yang betah dengan pengaturan oleh ketua PKBM, dia  sekaligus dijadikan guru di kelas PAKET A, B dan C. 

Karena mengharap kompensasi finansial bagi administrator dan guru yang dalam setiap proposal kegiatan dianggarkan, dia bersedia melakukan semuanya.  Minggu lalu,  sahabat ini baru berani mengeluhkan manajemen yang tidak transparan dan sudah 5 bulan terakhir ini belum dibayar.  Bila ditanyakan, Ketua Yayasan selalu mengelak, basi banget ya. Tadinya dia ragu-ragu untuk menyampaikan kenyataan yang dijalaninya sehari-hari di PKBM, melihat ‘kedekatan’ keluarga kami dengan empunya Yayasan.   Memang kesalahan D juga jarang punya waktu mengobrol dengan dia, karena jarang ada waktu santai.  

Memang selama ini ongkos transportasi selalu D penuhi, tapi itu hanya pas untuk ongkos.  Rasanya jadi nggak enak karena telah mengenalkannya pada orang PKBM.  

Keempat, karena pengelolanya adalah tetangga yang D inginkan agar dapat menjadi seperti saudara sendiri, sampai2 anak-anak terlatih memanggilnya ‘uwak’.

Kecewa? sudah jelas.  D kecewa untuk semua hal yang telah terjadi pada siswa-siswa miskin yang dimanfaatkan keberadaannya.  D kecewa untuk sahabat yang telah dimanfaatkan tenaga dan pikirannya, namun tidak dibayarkan hak-haknya.  D kecewa untuk setiap kepercayaan yang telah diberikan namun dibalas dengan keabaian.

Sungguh kecewa, mengetahui para siswa PAKET yang untuk makan pun belum tentu bisa setiap hari, dipungut iuran untuk tanda peserta mengikuti Ujian Nasional, dan sebagai syarat ‘kelulusan’ mereka yang rata-rata tidak layak untuk lulus karena minimnya pelajaran yang didapat dan minimnya kehadiran di kelas.   Ya, mereka akan mendapatkan kelulusan 100% seperti tahun lalu.. tapi tentu saja dengan sedikit ‘bantuan’, bila mereka mampu membayar.

Bila mereka lulus, lalu mendapatkan ijazah, maka mereka hanya akan mendapatkan sertifikat untuk terus hidup dalam kebohongan.  Tidak cukupkah bagi mereka hanya mampu membaca, menulis dan berhitung tambah kurang bagi kali?  Apakah untuk melanjutkan ke kursus menjahit atau bertukang, yang akan membekali mereka dengan keahlian untuk mendapatkan penghasilan,  perlu menyertakan ijazah SD, SMP atau SMA? 

Paradigma belajar yang dibentuk pemerintah dengan adanya PKBM ini, harusnya berbeda dari sekolah umum yang produk akhirnya selembar ijazah.  Belajar harus memiliki definisi yang lebih dalam, karena yang mereka perlukan adalah ilmu untuk melangsungkan hidup yang sering tersendat-sendat, seperti yang mereka alami.

Kelulusan siswa PAKET 100% hanya akan menguntungkan pemilik PKBM, karena dianggap telah memberikan penyelenggaraan pendidikan yang baik, dan karenanya akan melancarkan proses pengajuan proposal mereka. Oleh karenanya, tidak heran bila mereka akan mengusahakan dengan segala cara, dengan segala macam pembenaran- untuk ‘mempersembahkan’ kelulusan bagi siswanya, dengan pertaruhan gengsi nama PKBM-nya.

Tidak jarang juga ada orang dalam (atau oknum bila kau ingin menyebutnya begitu) DEPDIKNAS yang ikut memotong dana yang didapat dari setiap proposal PKBM yang masuk.   Mengapa semuanya bisa terlibat dalam tarian busuk ini, entahlah.  

Mungkin kasus ini bukan praktek yang umum di seluruh PKBM yang ada.   Semoga saja masih banyak PKBM yang berhati nurani dan memperjuangkan visinya sebagai pemberdaya masyarakat miskin, bukan memperdaya.  

Sirna nama PKBM MT yang tadinya tercium harum tersebar ke mana-mana.

Sesuatu yang kita lihat tidak selalu seperti nampaknya. 

Cukup sudah urusan dengan kaum oportunis ini, tidak ada halaman lanjutannya kecuali hubungan antar tetangga yang tarik ulur biasa saja.  Ojo cedhak kebo gupak. 

Do’a D dalam hati, semoga kami sekeluarga dijauhkan dari penyakit hati tidak amanah dan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.  Amin…

*Cerita paling akhir, Ketua Yayasan MT ini membentuk Tim Sukses untuk anak kandung Bupati Bogor yang sekarang, yang akan mengikuti  PILKADA BUPATI KAB. BOGOR tahun ini.  Dengan mengaku ‘memiliki massa yang cukup banyak’ (massa miskin?), yang akan ‘dibawa’ untuk mendukung pada saat pemilihan berlangsung.   Semata agar ada aliran dana dari calon penguasa ini, yang bila nanti memenangkan PILKADA maka akan lebih melancarkan jalur kepada kekuasaan. Bila anda tahu BUPATI BOGOR yang sekarang seperti apa.. anda akan bergidik…  

Terima kasih Allah, Engkau telah membukakan mata kami terhadap orang yang memakai kedok… sesungguhnya, bau busuk bangkai itu bila ditutupi, akan tercium juga..

Cibinong, 25 Juni 2007

Diedit, 28 Juni 2007.

Iklan