Siang ini D perlu melanggar aturan yang dibikin sendiri, bahwa sebisa mungkin apa yang tertuang di blog ini murni hasil sendiri.  Tapi posting yang ditemukan di KoKi Kompas kemarin ini terlalu berharga untuk dilewatkan tanpa diklipping… Ini persembahan D untuk diri sendiri dan teman wanita yang menanjak karirnya… Penulisnya adalah Ria Wassef.  Here we go:

 

Sedulur sedulur sejagad, artikel kali ini menceritakan bagaimana suka dukaku menjadi supervisor untuk si bulai. Bukan untuk maksud menyombongkan diri, tetapi sekedar berbagi pengalaman. Siapa tahu dari hasil pengejewatahan artikel gendeng dari aku ini bisa untuk bekal pengalaman kerja di kemudian hari.Di kantorku yang sekarang ini, aku dikasih tugas sebagai supervisor. Anak buahku ada 16 orang, bulai putih 4 orang, sisanya bulai ireng   (alias African American) dan bulai yarre (bulai dari India, kenapa aku bilang yarre, adalah singkatan dari asalnya mereka itu kere). Hush, jangan bilang bilang ya, ini untuk sesama pencinta koki saja.Awalnya jadi supervisor mereka itu susah sekali. Karena dalam sejarah, belum pernah mereka dipimpin oleh seorang wanita, non-whitey, masih  muda (dibawah umur 35), dan gendut (apa coba hubungannya body size dengan pekerjaan). Selama IBC berdiri, supervisor mereka notabene adalah pria, whitey, angkatannya pak Djoko Paisan, dan langsing. Jadi, mereka agak surprise juga sewaktu Bossku memutuskan untuk mengangkat aku jadi supervisor. Aku sih senang senang saja, itu berarti kocekku agak tebal (lumayan lah sekarang ada sisihan uang untuk beli es jolly di musim summer). Aku juga surprise lha kok aku yang dikasih tunjuk, rupanya selama ini banyak komplaint dari bawahanku mengenai rasisme, diversity, ketidak adilan karena masalah race, dan lain sebagainya. Jadi, mau dicoba apakah jika dipimpin oleh minority, ini bawahan bisa mingkem atau tidak. Sebab, companyku  ini paling takut kalau sudah disued.Hari pertama aku kerja, aku kumpulkan itu pria pria punya selera. Aku perkenalkan diriku, motivasiku, goalku, planningku, leadershipku dan  my expectation dari mereka. Pokoknya ilmu manajemen aku terapkan di sesi pertama. Aku juga tanyakan selera mereka bagaimana, apa yang mereka  inginkan, rencana jangka pendek dan panjang, prestasi yang sudah diraih, dan sebagainya. Aku tandaskan bahwa sistim kepemimpinanku adalah open door policy. Dimana jika mereka punya masalah, unek unek, issue, mereka bebas datang ke  kantorku untuk membahas masalah itu dan mencari solusi. Kalau mereka segan, boleh kirim email. Dan aku akan aku bahas one on one. Aku juga sarankan agar kalau gaya kepemimpinanku tidak becus, mereka boleh bebas mengkritik, dan aku sangat  mengharamkan untuk mendiskusikannya di belakangku.        Sesi kedua adalah mengajak satu persatu bawahanku untuk makan siang di restaurant. Walaupun aku harus mengeluarkan duit extra untuk  membayar tagihan makan, tapi manfaatnya sangat besar, aku bisa tahu sedikit mengenai kepribadian mereka. Dari hasil sesi pertama dan sesi kedua, diketahui bahwa supervisor yang terdahulu kurang memahami adat istiadat dan kultur si yarre dan African American. Dan cenderung pilih kasih kepada yang bulai. Contohnya, beberapa dari yarre adalah orang Pakistan dan Bangladesh yang notabene adalah muslim. Masalah yang terbesar adalah ketika mereka hendak melaksanakan shalat juma’at, si pemimpin tidak mau bertenggang rasa memberikan jam istirahat lebih dari 2 jam untuk kegiatan shalat  mereka.    Solusiku adalah, aku berikan mereka kesempatan untuk shalat, tetapi in return, mereka harus datang ke kantor lebih pagi atau pulang lebih lambat untuk mencapai goal jam kerja 8 jam sehari. Untuk idul adha dan idul fitri yang kebetulan  kalender disini tidak merah, aku kasih kesempatan mereka untuk mengambil vacation, tetapi in return mereka harus kerja pada hari paskah atau natal. Karena kantorku adalah food manufacture industry, maka pabrik pabrik kami selalu beroperasi 365 days a year.Sesi ketiga adalah mengadakan “team building” seasion, dimana setiap sebulan sekali, aku kumpulkan mereka di ruang meeting, dan aku  mengadakan acara simulasi game yang terdiri dari presentasi, permainan tebak tebakan, kartu, dan lain sebagainya untuk meningkatkan kreatifitas dan mengatasi kejenuhan. Didalam sesi ini biasanya aku memesan pizza dan menyediakan soft drink, atau aku  menganjurkan mereka untuk membawa pot luck (makanan dari rumah untuk disantap bersama sama).Aku juga sangat flexible dalam masalah izin untuk mengurus anak atau keluarga yang sakit. Kebetulan anak buahku yang African American selalu  memiliki masalah dengan keluarga, entah itu karena anaknya banyak, izinnya kebanyakan untuk mengantar anak ke dokter, mengantar ibunya si anak ke dokter, daycare, dan lain lain. Kebanyakan mereka ini anak anaknya berasal dari ibu yang berbeda.  Jadi hampir setiap minggu, mereka selalu minta izin. Bagiku, asal masih masuk akal dan mereka bisa mengganti waktu yang terbuang atau mencari teman untuk mengcover waktu mereka, I am fine. Kalau aku berpegian dari luar kota, aku selalu  tidak lupa membawakan souvenir, walaupun itu cuma sebatas gantungan kunci, post card, atau coklat.  Dan aku selalu bilang, ini untuk keluargamu ya. Nah, dari pendekatan pendekatan secara personal, aku berhasil membangun image, bahwa aku ini akan berlaku sebagai seorang ibu bukan sebagai seorang supervisor di kantor. Alhasil, sejauh ini aku belum pernah mendapat masalah dari mereka.                             Berikut saran bagi para boss wanita tentang bagaimana memperlakukan anak buah.

  1. Perlakukan bawahan anda, walaupun itu pria dengan segala respek. Jangan karena anda wanita dan bawahan anda pria lalu anda bersikap superior.
  2. Adakan pendekatan dengan menggunakan insting kewanitaan anda. Banyak para pemimpin wanita menyalahgunakan kekuasaan dengan membangun image seperti sikap yang dingin, judes, tangan besi, dan sebagainya karena tidak ingin dilecehkan atau  dikuasai. Insting kewanitaan itu antara lain: pendekatan secara kekeluargaan, tanyakan istri dan anak anaknya, memberikan ucapan selamat ketika mereka ulang tahun, syukru syukur anda mau mengajak bawahan anda untuk makan siang merayakan ulang tahunnya.
  3.  Beri kesempatan bagi bawahan anda untuk mengekspresikan ide, pendapat, dan mengeluarkan uneg uneg mereka, jadilah pendengar sejati. Banyak  atasan wanita yang bersikap, I am woman and I am  your supervisor, so you are under me. That’s big NO. Sebab, siapa tahu dari bawahan anda nantinya  mendapat promosi dan berbalik menjadi atasan anda.
  4. Sebaiknya berbusana secara professional. You can see my ketek and You can see my tigh sebaiknya dipakai di luar kantor. Banyak atasan wanita  menyalah gunakan cara berbusana untuk menarik perhatian laki laki. Memang, bawahan anda menjadi  segar pikirannya tapi jangan harap mereka akan respect kepada anda.
  5. Jangan gunakan emosi tetapi gunakan logika. Kebanyakan wanita selalu menggunakan emosinya  ketika menemukan masalah. Sehingga acapkali keputusan yang dihasilkan hanya berdasarkan mood  atau sepihak saja, tetapi coba berpikir secara   logis, think outside of the box. Kalau perlu, rembukkan bersama dengan pimpinan lain atau anak buah yang kelihatan lebih matang dalam menguasai  persoalan.
  6. Jangan ragu untuk mengirim anak buah anda untuk mengikuti training/kelas, untuk meningkatkan kualitas kerja dan kinerja mereka. Jangan takut merasa tersaingi.
  7. Jangan pecicilan atau tertawa terkekeh kekeh di telepon. Banyak atasan wanita yang masih hobi mengobrol dengan teman wanitanya melalui telepon. Batasi telepon pribadi.
  8. Batasi pembiacaraan pribadi. Aku cuma menulis keluh kesahku di koki, dan tidak pernah aku buka  siapa aku di hadapan anak buahku. Sedikit info  tentang diriku, akan menciptakan suasana kerja yang damai dan sehat. Tidak penuh dengan gossip  murahan. Di mejaku, malah tidak ada satupun foto keluarga yang aku pajang. Jadi, mereka tidak usah  mengira-ngira, lah kok anaknya Ria Wasseff belang  belang, satu Indonesia banget, satu lagi bulai. Lah kok suaminya ganti lagi. Cape deh, dengar  gossip murahan seperti itu.

                           

Inti artikelku kali ini, jika anda mendapat kesempatan sebagai pemimpin wanita, maka anda harus tetap tundukan kepala, jangan mendongak keatas, karena diatas langit masih ada langit. Juga jangan pernah menggunakan kewanitaan anda   (misalnya berpenampilan genit dan mengundang  berahi) atau bersikap lemah seakan minta  dilindungi untuk menggapai kesuksesan, karena jika   anda sudah tidak berpenampilan menarik lagi, I   believe, the door is widely open to kick you out. (tabiik).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s