Salah satu konflik batin adalah ketika ada tuntutan untuk…………  jaga Imej…………………….

Apaan sih imej itu, apakah sebegitu pentingnya sehingga harus dijaga segala?  Image, atau citra, adalah gambaran yang dipersepsikan oleh orang lain yang berinteraksi dengan si empunya gambaran.  Sementara itu dulu definisinya hingga D punya definisi lain yang lebih baik.

Citra yang baik itu seperti apa sih… ? Ini pertanyaan serius nih…?

Sepanjang perjalanan bermetamorfosa, rasanya citra D yang setia melekat adalah: ‘bola bekel’ hell yeah

Tapi setelah terjadi perubahan dalam penampilan dan terjadi peningkatan dalam karir, rasanya ada yang harus di-‘fix‘.  Karena apa harus di-fix?  Ini berdasarkan saran seorang  psikolog….

Ceritanya begini.

Waktu awal-awal tahun 2007 ketika sedang heboh-heboh pengawakan organisasi baru Divisi Infratel, ada beberapa ex-Manager Area (BP IV)  yang tidak lulus assessment (oleh Assessment Center) untuk diangkat sebagai Manager (BP III).  Padahal, dari penilaian diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar, tentu dengan sebisa mungkin menggunakan indikator2 penilaian yang obyektif,  sudah OK bangets lah.  Namun ketika hasil assessment keluar, mereka kecele.

Apa yang salah pada diri mereka?

Karena penasaran mengapa tidak lulus, maka dipanggillah seorang yang AHLI di bidangnya, seorang psikolog yang telah berpengalaman bertahun-tahun menangani assessment jabatan di berbagai perusahaan, termasuk di PT TELKOM.

Konsultasi dilakukan secara intens selama 4 jam penuh.  Tanya jawab mengenai segala macam hal yang ingin diketahui.  Misal : apa sih yang sebenarnya ingin disasar oleh assessment jabatan itu?  Bagaimana kiat-kiatnya agar bisa lulus?  Bagaimana cara menjawab test tertentu dengan ‘benar’? 

(Kalau kamu ingin mengetahui jawabannya di sini, nanti aja kapan-kapan akan diterbitkan deh hehehe 🙂 )

Kesimpulan akhir yang paling penting adalah mengenai ‘benang merah’ assessment itu…

Yaitu bahwa seorang calon pemimpin harus memiliki ‘karakter’ kuat.

Karakter, merupakan cerminan dari kualitas seseorang yang memiliki kompetensi kuat di bidangnya (pengetahuan s.d keterampilan), dan menerapkan prinsip-prinsip keilmuannya dengan kuat tanpa dapat ditawar-tawar.

Karakter, berkaitan dengan respon yang dikeluarkan seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

Oleh karena itu seseorang akan disebut ‘berkarakter’ bila responnya terhadap suatu hal tertentu, dapat diprediksi oleh lingkungannya.  Jadi sebaliknya, bila responnya tidak dapat diprediksi, maka dia akan disebut ‘tidak berkarakter’, lebih kejam lagi akan disebut ‘kekanak-kanakan’, karena hanya anak2 yang sering kali berubah-ubah. 

Sekolah yang ditujukan untuk melahirkan calon pemimpin, seperti SECAPA, mengajarkan pada siswa2nya untuk memiliki karakter ‘ja-im’.  Coba perhatikan, bila seorang siswa SECAPA kebetulan berpapasan dengan rekannya di jalan raya atau di mana pun di ruang publik, mereka hanya akan saling mengangguk tanpa senyum,  boro-boro cengengesan!

Nah, karena menganut paham ‘continuous learning‘ D mencoba menginternalisasi sikap ja-im ini pada diri sendiri, siapa tahu bisa langsung lulus assessment hahahaha (bila suatu saat diperintahkan ikut assessment 😉 entah kapan).  Tentu saja, selain dengan cara terus menerus membela keadilan dan kebenaran di jagat bumi ini!  >) (wah mirip slogan Voltus Five) dan meningkatkan kompetensi berkesinambungan.

Karena, seseorang yang memiliki kompetensi kuat, dan juga berbuat baik, tetap tidak akan ‘dianggap’ oleh lingkungan sekitarnya, bila cara dia men-‘deliver’ responnya dilakukan dengan cara kekanak-kanakan, seperti sering cengengesan, plin-plan dst dst yang mencakup segala perilaku yang tidak dapat diprediksi.

Jadi, kalo dulu D suka bercanda rada-rada mesum dan main fisik (pukul2an, begitu), sekarang ditahan.  Kalo dulu ketawa bisa terbahak-bahak dan bisa diterus-terusin sampe 15 menit (gila kalik), sekarang dibuat 15 detik saja.  Kalau dulu bisa menyapa orang-orang dengan gaya centil, sekarang dibuat lebih pasif, dengan cara menyapa (dengan meninggalkan gaya centil tentu) bila orangnya benar-benar sudah eye to eye, atau menunggu disapa orang duluan.  Apakah ini ja-im yang benar atau kebablasan? 😦  <bingung> 

Sekarang orang sudah mulai menilai “Waah, D sekarang kalem ya……?”

Mudah2an itu bukan kata bersayap yang arti sesungguhnya adalah :  ” Waaaah D sekarang sombong ya………..?”

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaa……

I  just want to be myself! hik hik…..I miss my(old)self…..

    

Iklan

2 pemikiran pada “Jaga Imej

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s