Dalam pencarian jati diri, tak akan bebas dari kemunculan konflik.  Konflik yang tak terselesaikan dengan baik akan menjadi bibit ketidakbahagiaan,  benarkah?

D menyadari itu sepenuhnya setelah mengalami sendiri, banyak hal, selama tahun-tahun kehidupannya  bermetamorfosa. Dari balita ke anak-anak, ke remaja dan ke masa dewasa, lalu berperan bunglon : anak, istri, orang tua, karyawan, atasan, teman,  warga.  Growing up is  painful!

Ada masa-masa ketika hidup menjadi manusia, kebahagiaan bukanlah pencarian utama, karena kebahagiaan masih merupakan konsep yang abstrak: kesenangan yang bisa hanya berupa bermain di tengah hujan.  Kesenangan yang bisa dilakukan tanpa harus ada pertanggungjawaban.  Kesenangan dari hal-hal yang sederhana, dan tak menuntut pengorbanan dari orang lain.

Lalu berganti masa ketika tanggung jawab mulai dibebankan (akil baligh),   menjalani hal baru masih dengan tergagap.

Selepas masa tanpa tanggung jawab itu, menjalani kehidupan adalah konflik, konflik, konflik.

Konflik dengan orang tua, teman, orang tua teman, pacar, orang tua pacar, dosen, atasan, rekan kerja, pemerintah, dokter, bahkan orang lain yang tak dikenal. 

Ada konflik yang terselesaikan dengan baik, ada pula yang tak terselesaikan.  Tapi tentu lalu tak bisa ditindaklanjuti  seperti cowboy di film ‘Unfinished Business‘ yang bisa bilang : ‘I’ll get back to you!‘ dengan semena-mena.

Disadari atau tidak, ‘unfinished business’ yang pernah dialami akan tenggelam dalam bawah sadar kita dan mengganggu keseimbangan ekologi psikis bila kau ingin menyebutnya begitu.   Sebutlah ada mata rantai yang putus, bukan hanya satu, melainkan banyak, dan kau menjadi tidak seimbang.

Kau tidak tahu penyebabnya, karena hal itu bertumpuk tak terklasifikasi jauh di dalam benakmu.  Kadang muncul impuls-impuls yang menjelma menjadi mimpi buruk dalam tidurmu.  Paling tidak tidurmu tak selalu nyenyak.  Dan, ini yang ingin disampaikan sejak awal, bahwa hal ini juga merupakan bibit dari rasa ketidakbahagiaanmu, yang berkembang menjadi rasa marah yang kau tak tahu mengapa dan untuk siapa.  Rasa ini adalah awal dari depresi yang bisa jadi berkepanjangan.

Untuk mencari pencerahan, D baca dalam buku, bahwa konflik selalu ada dalam proses perubahan.  Di mana,  perubahan yang terjadi harus dimanage sedemikian rupa agar proses melting s.d refreezing terarah sehingga didapat  bentuk baru yang sempurna (id. diinginkan).

Bila perubahan tersebut tidak dimanage dengan baik, maka hasilnya adalah luka berkepanjangan yang menimbulkan rasa sakit yang berkembang menjadi rasa marah yang luar biasa.

Jadi, didapatlah pemahaman bahwa, pangkal ketidakbahagiaan yang menjadi pangkal rasa marah yang laten itu exists, karena ada banyak konflik yang tak terselesaikan dengan baik. Dimana, untuk mengentaskan itu semua, konflik harus selesai. 

Bagaimana caranya?  Ini usulan saja: Karena hidup tidak berlaku surut, always moving forward, bagaimana kalau mencoba menjalani hidup sesuai dengan tuntunan dari Allah, menjalankan hidup dengan santun, dan tidak segan meminta maaf kepada orang lain yang pernah berinteraksi secara kurang menyenangkan dengan kita?

Mungkin sekian saja self-analysis yang dilakukan agar tidak berbuntut melebar dari topik..  

Iklan

Satu pemikiran pada “Fight the anger within

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s