10 Cara agar Hidup Lebih Bersemangat

Standar

Motto harianku cuman satu yang udah go publik : Bahagia adalah pilihan.  Bahagiakah anda hari ini?

Kenapa motoku bunyinya itu, mustinya langsung ketangkep alasannya.  Sama seperti alasan kenapa aku sengaja kursus mengenai pengobatan thibbun nabawi : karena aku sakit-sakitan.  Aku butuh obat yang bisa kupersiapkan dan kutelan sendiri. 

Percayalah, aku juga bukannya manusia yang nggak pernah mengalami up and down.  Depresi seperti penyakit kronis, memakanku hidup-hidup. 

Seperti kiriman dari langit, hari ini ada satu email dari milis masuk mailboxku, subyeknya “10 ways to be happy“.   Isinya persis yang kubutuhkan saat ini, bersumber dari Gretchen Rubin pengasuh blog happiness-project.com.  

Rubin penasaran  kenapa selama ini hidupnya terasa nggak memuaskan, padahal semua kebutuhan dia dan keluarga tercukupi, dari level Maslow paling dasar hingga level paling tinggi aktualisasi diri.  Sering marah-marah ke suami, anak, teriak-teriak, kayak orang nggak bahagia banget.  

Lalu dia sengaja bikin project yang tujuannya menyelidiki cara-cara bagaimana seseorang bisa mencapai level ‘bahagia’.   Ngapain terus hidup kalo nggak pake bahagia, gitu kalik, makanya niat banget sampe bikin project khusus tentang ini.

Inilah hasil penyelidikan Rubin supaya kita bisa senang bahagia dan hidup lebih bersemangat: 

  1. Jangan mulai dengan hal2 yang berat.  Ketika aku mulai dengan project bahagia, aku cepat sadar bahwa daripada terjun langsung melakukan meditasi atau menjawab pertanyaan mendalam mengenai identitas diri, aku harus mulai dari hal2 yang mendasar dulu, seperti pergi tidur tidak terlalu larut dan tidak membiarkan diri sendiri kelaparan.
  2. Meredam kemarahan.  Sebelumnya aku selalu mengumbar perasaan marahku dan berusaha semuanya dikeluarkan sebelum waktu pergi tidur tiba.  Tapi mengekspresikan kemarahan malah berakibat volume semakin membesar, persis menabur bensin ke bara api.
  3. Palsukan perasaan ceria hingga kamu benar-benar merasa ceria.  Perasaan mengikuti tindakan.  Jika aku merasa berduka, aku sengaja bertingkah ceria sehingga aku benar-benar merasa ceria.  Kalo aku merasa marah pada seseorang, aku langsung lakukan sesuatu yang sangat berarti baginya, lalu kutemukan perasaanku melembut.
  4. Mencoba hal baru.  Segala tantangan layak ditaklukan walaupun akhirnya gagal.  Selalu ada rasa puas yang luar biasa ketika merasakan sesuatu yang baru dijalani.
  5. Jangan mengatasi rasa sendu dengan belanja barang-barang yang tidak benar-benar diperlukan atau mentraktir diri sendiri makanan. Perasaan bersalah yang timbul sesudahnya dan perasaan hilang kendali diri akan menghantui terus. 
  6. Tapi tidak apa bila hal yang dibeli adalah sesuatu yang benar-benar diperlukan dan memberikan nilai tambah pada kualitas hidup.  Misal, membeli kamera mahal , untuk mengabadikan saat-saat terindah si kecil.
  7. Jangan terlalu perfeksionis.  Orang-orang yang puas setelah mendapatkan hal-hal benar-benar mereka perlukan, lebih mudah merasa bahagia daripada orang yang ingin semuanya sempurna dulu.
  8. Bergerak badan selama 15 menit… cegah kemungkinan aliran darah ke seluruh tubuh kurang lancar.
  9. Berhenti menuntut.  Daripada menuntut orang lain melakukan sesuatu, lebih baik membujuk dengan canda atau lakukan sendiri apa yang bisa dilakukan.
  10. Bertindaklah, setelah mengetahui  bahwa bahagia adalah masalah pilihan.  Segera tindaklanjuti tips-tips di atas.

Kalo kubaca-baca sih lebih cocok bahagia dalam arti ‘puas’, contented.  Bukan bahagia dalam arti yang lebih dalam lagi.  Yang itu sih rada berat hehe.  Sesuai keyakinan masing-masing deh.

Anyway, the recipe is just what I need.  Terutama yang poin 2,3,4,8.  Thanks Gretchen!

About these ads

About D

They say I'm a Strategist and Intellectual, wow, I hope it is close to reality! Name is Dina Agustin Wulandari. Born in Bandung, Jawa Barat, Indonesia on August 31st 1974. This is my personality test result: Although some of my friends love to call me autis blogger, I hope you can find something good in me and my writing. Hiks..

15 responses »

  1. betul
    bedanya tipis antara tingkatan lega, puas, dan bahagia. sangat sulit menemukan definisi bahagia karena menyangkut perasaan yg paling dalam.
    jadi inget pas ngikut iesqi. tujuan hidup ini adalah bahagia. kapan? ya hari ini, karena kemaren sudah lewat dan besok atau lusa belum datang.
    coba jadi trainer iesqi d, sapa tau motonya cocok dgn pekerjaan ini :-p

  2. Hehehe.. kalo aku yang jadi trainer, trainee-nya ya diri sendiri… karena bahagia itu nggak bisa dilatih orang lain. harus dicari dan dirasakan sendiri. Nanti kalo aku jadi pelatih, trus trainee-nya kukirimin tagihan pelatihan, jadi bubar lagi deh hasil latihannya …. :P

  3. Bagus sekali artikelnya, saya rasa, melakuknnya adalah langkah awal untuk mendapatkan kulaitas hidup yang baik. Jadi, tunggu apalagi, daku kan pergi untuk melakukannya, ha..ha. Tambah lagi artikelnya dengan yang lebih menarik, kalau bisa artikel-artikel yang bisa membangkitkan semangat, soalnya aku loyo loh. Ngak aku serius, bikin lagi artikel yang lebih menarik, so aku tunggu ya. Thanks.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s