Posted by: D on: Maret 17, 2008
Minggu-minggu terakhir ini, tatapan mata kami sudah sama seperti tatapan Salman setiap kali menyaksikan kejadian dari rumah hybrid kami.

Sudah ada banyak rencana dikepalanya.
Bukan salah siapa-siapa…
Tapi karena kontrakan sudah akan berakhir bulan ini. Kami tidak mau jadi homeless. Haha :D
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pembangunan struktur berlangsung cepat, yang paling lama adalah bagian finishing: coating cat vernis pada bambu, kayu dan batu ekspose, lalu instalasi listrik, dan instalasi furniture.
Pencahayaan siang hari dan malam hari
Tentu saja lampu teplok itu hanya bentuknya saja, menggunakan bohlam listrik, bukan minyak tanah. Dinyalakan hanya pada waktu tidur.
Untuk memberi cat vernis pada obyek kayu dan bambu pada bangunan rumah, harus menunggu hingga cukup kering. Di tengah cuaca hujan dengan petir begini, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menunggu.
Sementara menunggu, kami membangun pergola.
Daihatsu Charade kecil ini sudah melewati suka dan duka bersama kami, dia berhak menerima pergola cantik.
Seperti ini.

Suasananya serasa di kampung banget..
Sekalian membuat atap teras depan untuk menampung tetangga yang ingin bengong bersama.

Karena ini bukan rumah di kampung dengan luas tanah berhektar-hektar di kelilingi oleh kebun buah-buahan, melainkan hanya rumah berlahan sempit di komplek perumahan rakyat, maka issue yang bisa menyulut konflik dengan tetangga harus diminimalisir.
Oleh karenanya, kami terpaksa membangun tembok tinggi di pagar samping depan rumah. Bukan supaya kami tidak peduli dengan tetangga, tapi karena kami berusaha supaya limpasan air dari atap pergola tidak jatuh ke halaman tetangga kami yang bernama pak Irwan dan bu Shinta yang punya anak perempuan bernama Naura yang telah menjalin pakta persahabatan dengan Yasmin.

Supaya terlihat peduli, kami memasang hiasan bata bolong untuk sarana komunikasi visual dengan mereka.
Maksudnya cukup untuk mengintip hehe
Hiasan teralis bambu yang dipasang di antara tiang depan teras maksudnya supaya antara teras dengan jalan tidak terlalu blong, ada penghalang udara dan debu jalanan. Kami belum memasang pagar.
Kami belum memasang pagar, menuruti saran dari Salman yang telah selesai melakukan security check.

Situasi aman bos!
Kami memercayainya.
Nanti, setelah muncul isu keamanan, dan fresh budget tentunya, pagar carport adalah prioritas
Hahaha…just go for it TD!
I definitely will… I will make time to learn playing kacapi. such beautiful diatonic sound…
kalau JK (jarwo Kuat) di Republik Mimpi, ” plis dong ah!”
aku ikut jadi penyanyi kidung nya.. masih bisa engga yaa eeeeeee
boleh tany detil ngga. tanah brp meter, bangunan brapa? n habis brpa duit? boleh share denahnya tertarik nich apalagi da kolam ikan nyaa heheheh
inspirasi bgt…..
boz….
bangun pergolanya aja habis berapa ya?
jadi ngebet pengen punya pergola ky gitu…
mmmmm….mnarik….
tapi rumah ane di surabaya ne….
piye?
Di Jogja pasca gempa juga banyak bermunculan pengusaha rumah bambu yang sama kompetennya. coba liat di http://sahabatbambu.com atau Search aja di google… mungkin di Surabaya juga ada.
sepz….thx y….segera menuju ke lokasi…
aduhh kapan ya punya rumah kayak gini, sungkan harus tinggal di Pondok Mertua Indah
Maret 18, 2008 pada 1:38 am
Waaahh…asik banget nih rumahnya. Keren euy, nyeni gitu!