Posted by: D on: Februari 25, 2008
Semenjak dimulai tanggal 8 Februari 2008, pembangunan rumah hybrid kami sudah ‘naik atap’ beberapa hari yang lalu.
Tenggat waktu pembangunan yang hanya sebulan, dipenuhi dengan pengerahan s.d 7 orang tenaga kerja dalam satu waktu. Dua minggunya lagi adalah finishing, untuk instalasi listrik, instalasi ruangan dan pembenahan yang masih kurang sempurna.

Salman menginpeksi dinding bilik… memastikan bukan terbuat dari wallpaper.
Bagi yang masih penasaran dengan bahan baku rumah semi permanen, ini dia gambar-gambarnya :
Ini Bilik Kajang, sebagai penyekat ruangan. Penggunaan bilik kajang untuk sekat dinding dibuat 2 lapis supaya tebal dan kuat. Untuk rumah tinggal, tidak menggunakan bilik yang bermotif. Bilik bermotif biasanya digunakan di bangunan restoran/bangunan umum lainnya.
Ini Genteng Mantili. Atap bisa juga terbuat dari rumbia yang diikat-ikat, hanya saja rumbia (ilalang) jarang digunakan untuk rumah tinggal karena usia teknisnya lebih singkat daripada genteng. Dan Genteng Mantili lebih jago silat. (what????)
Bambu Betung/Bitung pembangun struktur, yang gembung dan ngabelentrung bila di pentung. Ikatan dengan ijuk membuat struktur menjadi lentur saat gempa. Pramuka sekalllee
Sebagai bahan pintu dan jendela, masih mengandalkan kayu kamper. Suatu saat pintu dari bahan bambu akan dirancang oleh orang yang kreatif. Andakah orangnya?
Sekarang mari kita memeriksa batas-batas bangunan dengan tembok tetangga…
Di belakang rumah kami menyisakan sedikit ruang terbuka untuk sirkulasi, biopori, tempat menjemur pakaian, dan bercengkrama di balai bambu (balai belum dibuat).
Inilah yang kumaksud dengan talang yang mencegah limpasan air dari atap masuk ke wilayah tetangga belakang, walaupun jarak overstek atap mepet sekali dengan tembok pagar belakang.
Sekarang mari kita periksa ruang dalam….

Sekat ruangan di dalam rumah. Cantik kan? Rumah semi permanen, menggunakan bata merah yang diekspose untuk sekat bagian bawah dan bilik kajang lapis dobel untuk bagian atas.

Pada dinding kamar tidur yang berbatasan dengan rumah permanen, dinding tembok dilapis dengan bilik lalu bagian bawah ditempel dengan potongan batu alam agar artistik.
Ini jalusi untuk sirkulasi ruang tidur anak..
Sekarang kita lihat kamar mandi shower…
Karena ukurannya yang kecil, dinding dilapisi keramik putih agar kesan ruangan menjadi lega… rencana awalnya akan dilapisi batu alam supaya bernuansa outdoor… tapi apa daya hanya 1,5m x 1,5m … sudah beserta toilet duduk.
Agar terang, dinding belakang kamar mandi diberi 2 blok kaca tebal transparan untuk membuat cahaya masuk ruangan.
Saat ini masih belum selesai pengerjaannya, jadi mungkin masih terlihat berantakan, kotor dan kampung banget. Tapi yang kami lihat adalah visi.
Bahwa memiliki rumah yang aman dari gempa, ramah lingkungan, bergema dan berresonansi, melestarikan budaya nenek moyang yang baik, yang mengingatkan kami untuk tidak menjadi sombong akan harta dunia, mencegah kami dari perilaku berlebih-lebihan, dan mendukung segala usaha kami memberikan pendidikan akhlak terbaik pada anak-anak, adalah berarti segalanya bagi kami.
Maka keprihatinan yang sedang dijalani saat ini, tidak berarti apa-apa dibanding dengan kepuasan yang kami dapatkan saat nanti.
Semoga Allah swt meridhoi.
~@*@~
Baca juga tulisan sebelumnya :
Rumah Hybrid : Prosesi Pembangunan (minggu pertama)
maaf, boleh tau gak alamat yayasan bambu, karena insya Allah, saya juga berminat untuk membangun rumah yang menyatu dengan lama, tadinya mau rumah kayu, cuma, alhamdulillah belum mampu, jadi bambu nampaknya bisa menjembatani keinginan rumah kayu saya, (bambu kan kayu juga,hehehehehe). lokasi saya di depok. terima kasih.
bagus sekali saya mau membuat rumah peristirahan dari bahan bilik kira-kira berapa semua biayanya ya?
Thank u bro. atas ilmunya. Salam dr aceh.
siiip banget kalau bisa gambar jelas nya dunk…….
Gimana cara bikin iketan ijuk pada sambungan bambu nya ya ? biar gak keliatan sambungan nya gitu kayaknya.trims info nya .
Februari 26, 2008 pada 1:20 am
Simply amazing….